Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh : Muhammad Dullah Rivani
(Pemerhati Sastra dan Agama, bermukim di Doha, Qatar)
Puisi-puisi karya Leonowens SP, merupakan karya yang dibuat dengan kepekaan tinggi terhadap...
Membaca novel-novel Dan Brown bersiaplah untuk bergadang. Itulah selalu yang selalu saya alami. The Lost Symbol menjadi pengalaman ketiga setelah The Da...
Seminar Atlantis;The Lost Continent Finally Found akan segera digelar. Bagi
Anda yang tertarik untuk hadir dapat memperoleh undangan seminar Atlantis;The
Lost Continent Finally Found karya...
“Mengungkap dahsyatnya efek perang di Irak yang dirasakan semua orang, dari Wall Street hingga ke jalan-jalan di Inggris, dari rakyat Irak hingga ke pedagang kecil di Afrika.”
—Guardian
“Dengan hanya 1 triliun dolar, Pemerintah AS bisa membangun 8 juta unit rumah, menggaji 15 juta guru selama setahun, membayar asuransi kesehatan 530 juta anak selama setahun, memberikan beasiswa empat tahun kepada 43 juta mahasiswa di universitas negeri. Sekarang, kalikan tiga jumlah-jumlah itu.”
Amerika Serikat kini berada di ambang krisis ekonomi yang menurut sejumlah ahli setara dengan masa Great Depression tahun 1930-an, bahkan mungkin lebih hebat lagi. Salah satu penyebab kehancuran ekonomi AS ini ditengarai adalah invasinya di Irak.
Studi terperinci dari ekonom peraih Nobel Ekonomi 2001, Joseph E. Stiglitz, dan profesor Harvard, Linda J. Bilmes, menyoroti ongkos-ongkos raksasa yang disembunyikan dari mata rakyat AS. Salah satu contoh kecurangan itu adalah penggantian peralatan militer yang dihargai 6 kali lipat lebih mahal daripada pada masa damai. Tidak hanya merugikan kepentingan nasional AS, perang Irak juga menggoyang stabilitas ekonomi dunia.
Lebih dari sekadar kerugian ekonomi, invasi Amerika ke Irak adalah tragedi besar dengan ongkos kemanusiaan yang tak terhitung.
“Biaya perang di Irak cukup untuk:
memberikan layanan kesehatan bagi 47 juta rakyat AS yang tak memiliki asuransi kesehatan
menyediakan pendidikan pra-TK yang bermutu untuk semua anak
menuntaskan krisis perumahan
membuat biaya perguruan tinggi terjangkau oleh semua mahasiswa
menyediakan keringanan pajak bagi puluhan juta keluarga kelas menengah.”