Cuci-cuci....Bersih-bersih....!! Yuk Pilih buku mana saja yang kamu suka, dan dapatkan discount special UP TO 40%. Psstt...bisa buat teman ngabuburit juga loh dalam rangka menyambut Ramadhan kali ini.
Bekerjasama dengan Penerbit KOMPAS, mengedepankan buku-buku bertemakan nasionalisme. Mari kita gali lagi pengetahuan tentang INDONESIA!! Supaya kita lebih...CINTA INDONESIA. MERDEKA!
“Kurasa kami membuat Lorong Jeritan menjadi terlalu menakutkan karena di tengah-tengah permainan, Shane meringkuk seperti bola di kolong tempat tidur. Kami berusaha membuatnya merangkak...
Aku bisa pastikan, semua orang yang membaca buku ini pasti akan merasa tersindir, senyum-senyum dan mesem-mesem sendiri, bahkan mungkin akan tertawa ngakak guling-guling sampai berlinang air mata....
Penulis: Roland Gunawan Sitompul, M.Sc.
(penikmat sastra, bermukim di Amerika Serikat)
Sebagai seorang penikmat buku-buku sastra terbitan berbagai negara,saya sangat...
Proses Nominasi dan Seleksi Calon Legislatif Pemilu 2004 Fenomena oligarki yang begitu kental dalam proses pencalonan legislatif Pemilu 2004, di satu pihak, merupakan warisan otentik dari struktur otoriter Orde Baru yang mengharamkan partisipasi rakyat dan sebaliknya, menghalalkan mobilisasi oleh negara beserta agen-agennya seperti birokrasi sipil dan militer. Di pihak lain, ketika Soeharto dan oligarki negara ala Orde Baru runtuh, para politisi partai pasca-Soeharto terperangkap ke dalam kecenderungan oligarkis baru melalui partai-partai yang struktur kepemimpinannya merupakan duplikasi dari struktur tradisi sosio-kultural lokal. Akibatnya, kesempatan bagi rakyat untuk menjadi faktor determinan dalam proses politik yang telah dibuka melalui gerakan reformasi acapkali terbelenggu oleh struktur masyarakat yang cenderung patrimonial dan feodalistik. Sementara itu, berbagai instrumen demokratis yang direkayasa untuk meningkatkan partisipasi publik dalam proses politik pada akhirnya hanya menjadi proforma birokratis yang justru menjustifikasi berulangnya praktik oligarkis dalam kehidupan partai politik.Lebih jauh lagi, studi ini memperlihatkan bahwa institusionalisasi politik yang menjadi kata kunci dalam demokratisasi, belum bisa berlangsung. Partai-partai politik di tingkat lokal, meskipun merupakan kepanjangan dari struktur partai yang sentralistik di tingkat nasional, akhirnya menjadi wadah akomodasi bagi "re-tradisionalisasi" politik karena untuk sebagian kasus, faktor-faktor kultural-tradisional lebih berpengaruh dalam proses seleksi para elite politik di legislatif ketimbang faktor kapasitas politik.