Pompeii
    
Kemurkaan Tuhan pada manusia yang menyekutukan
kenikmatan dan kemewahan dunia sebagai sembahannya. Kota penuh kenikmatan dunia yang juga termasuk
kemaksiatan dalam kehidupan sehari-harinya lenyap hanya dalam hitungan menit.
Itulah Pompeii. Yang terkubur letusan gunung Vesuvius pada tahun 79 M. Robert Harris, penulis novel terkenal Imperium,
menuangkan sejarah kota Pompeii sebelum terkubur dalam novel yang telah menjadi
No. 1 International Bestseller, POMPEII. Novel yang rencananya akan dibuat
versi layar lebarnya ini menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di Pompeii
dan orang-orang yang terlibat di dalamnya yang diambil dari sudut pandang 4
tokoh utamanya. Adalah Marcus
Attilius Primus, yang menjabat sebagai Aquarius Aqua Augusta (semacam pejabat
penanggung jawab masalah pengairan Negara). Dalam usia mudanya 27 tahun, dia
menggantikan Aquarius lama, yang menghilang secara misterius di Campania,
Italia. Tugas utamanya adalah mengurus saluran air paling panjang di dunia Aqua
Augusta yang mengairi kota –kota yang berada di wilayah yang berada beberapa
mil jaraknya dengan gunung Vesuvius. Penyelidikan tentang mengapa pada bulan Agustus tahun
79 M itu, Aqua Augusta yang terkenal perkasa alirannya terhenti. Dalam
pekerjaannya, dia bertemu dengan Corelia Ampliata, putri Numerius
Popidius Ampliata salah satu mantan budak yang telah menjadi kaya raya, dan
jutawan yang kejam. Corelia adalah gadis cerdas yang nantinya menjadi bagian
penting cerita Pompeii. Juga Pliny, Laksamana yang tegas,berwawasan dan
senang menulis buku. Penceritaan yang sangat detil adalah salah satu
kelebihan tulisan mantan wartawan BBC tersebut. Gunung Vesuvius yang merupakan
gunung berapi aktif kala itu, dalam sejarahnya memang sering menimbulkan
getaran-getaran gempa dalam hari-hari penduduk Pompeii. Namun getaran yang
semakin hebat pada bulan Februari lalu pertengahan Agustus 79 dan beberapa
peringatan setelahnya tidak digubris bahkan oleh penduduknya. Sehingga begitu
kejadian banyak sekali rakyat yang dalam posisi masih beraktivitas dan
meninggal dalan raut ketakutan dalam usaha melarikan diri dari letusan gunung.
Kedahsyatan letusan Vesuvius, mengubur Pompeii pada tanggal 24 Agustus 79 M,
hingga kota itu hilang selama 16 abad. Novel berlatar sejarah yang kemudian difiksikan,
barangkali sudah banyak, namun Robert Harris rupanya sangat piawai menceritakan
sebuah tragedi sejarah dalam buku terbarunya ini. Kota-kota yang terekam,
nama-nama yang terlibat, kejadian-kejadian yang dibuat hampir seperti
kronologis membuat pembaca seperti berekreasi ke Pompeii. Buku setebal 392
halaman ini juga dilengkapi keterangan ensiklopedi berbagai hal yang berkaitan
dengan gunung berapi di setiap pergantian bab-nya. Hal ini semakin
memberi nilai tambah bahwa novel ini tidak hanya sekedar fiksi, namun juga
sebagai dokumen yang layak untuk dikoleksi. Kejayaan Pompeii yang terkubur dalam sekejap,
mengingatkan kita pada kisah kaum Nabi Luth. Pompeii yang mengumbar segala
kenikmatan dan menurut Attilius adalah kota “penipu” karena hampir sebagian
besar pendatang ataupun pelancong yang datang ke sana akan tertipu oleh penjual
baik barang atau jasa yang ada di sana menggambarkan betapa tamak dan rakusnya
orang-orang Pompeii. Meskipun sudah dikaji secara ilmiah, letusan
gunung Vesuvius berdasarlan analisis vulkanologi Haraldur Sigurdsson,
Stanford Cashdollar dan Stephen R.J.Sparks dalam bukunya The American
Journal of Archaeology (seperti yang diceritakan Robert Harris di bagian
akhir buku ini) dan seperti biasa, manusia tentu bisa menganalisa dan menjadi
masuk akal setelah terjadinya sebuah perisiwa, toh kita tidak bisa
mengesampingkan kuasa Tuhan dalam peristiwa ini. Robert Harris sendiri menulis dalam kisah setelah
letusan, besar kemungkinan kejadian yang dahsyat ini adalah salah satu hasil
dari ulah kesombongan dan keangkuhan manusia. “Tetapi inilah Alam, melaju ke arahnya-tak
bisa dipahami, menguasai segalanya, tak peduli-dan di dalam apiNya dia melihat
betapa sia-sia segala keangkuhan manusia.” (hal. 383) Lantas, jika kita kaitkan dengan kejadian bencana
yang sedemikan sering melanda negeri kita Indonesia kemudian berkaca pada buku
Pompeii ini, apakah kita akan menganalisa dan memiliki kemampuan untuk mencerna
dan berpikir lebih dalam sebelum bencana baru datang?! |