Cuci-cuci....Bersih-bersih....!! Yuk Pilih buku mana saja yang kamu suka, dan dapatkan discount special UP TO 40%. Psstt...bisa buat teman ngabuburit juga loh dalam rangka menyambut Ramadhan kali ini.
Bekerjasama dengan Penerbit KOMPAS, mengedepankan buku-buku bertemakan nasionalisme. Mari kita gali lagi pengetahuan tentang INDONESIA!! Supaya kita lebih...CINTA INDONESIA. MERDEKA!
“Kurasa kami membuat Lorong Jeritan menjadi terlalu menakutkan karena di tengah-tengah permainan, Shane meringkuk seperti bola di kolong tempat tidur. Kami berusaha membuatnya merangkak...
Aku bisa pastikan, semua orang yang membaca buku ini pasti akan merasa tersindir, senyum-senyum dan mesem-mesem sendiri, bahkan mungkin akan tertawa ngakak guling-guling sampai berlinang air mata....
Penulis: Roland Gunawan Sitompul, M.Sc.
(penikmat sastra, bermukim di Amerika Serikat)
Sebagai seorang penikmat buku-buku sastra terbitan berbagai negara,saya sangat...
Ditulis di tengah suasana peperangan besar Surabaya 1945, buku ini barangkali merupakan karya Tan Malaka yang paling imajinatif. Brosur ekonomi-politik yang dituturkan dalam gaya naskah drama, percakapan antara kelima tokoh yang oleh Tan Malaka dijuluki para pendakwa modern, yakni: Godam (wakil kaum buruh), Pacul (wakil kaum tani), Denmas (wakil priyayi), Toke (wakil kelas pedagang), Mr. Apal (wakil kaum intelektual) Perjuangan Tan Malaka penting untuk dikenal oleh generasi muda. Namun bagaimana para siswa akan mengenalnya jika namanya dihilangkan pada buku yang diajarkan di sekolah? Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI. Tan Malaka berkeliling Jawa. Ia juga berada di Surabaya ketika terjadi pertempuran besar, dan ini memberikan inspirasi untuk menulis tiga buah brosur: Politik, Rencana Ekonomi, dan Muslihat. Peredaran brosur ini hanya terbatas sekali, oleh sebab itu tidak pernah bisa menjadi alternatif untuk menggantikan Perjuangan Kita, karya Sjahrir yang sebenarnya jauh di bawah brosur Tan Malaka. Harry A. Poeze, KITLV Belanda. Mencoba merumuskan kembali perjuangan kemerdekaan Indonesia dan jauh menatap ke depan. Koran AcehKita