Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Debby Gontha
(Pengusaha dan Penikmat Sastra)
Begitu banyak kisah yang telah terjadi di dalam waktu. Kita menjalani hari-hari dalam waktu. Seringkali kita juga diburu oleh...
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Oleh : Muhammad Dullah Rivani
(Pemerhati Sastra dan Agama, bermukim di Doha, Qatar)
Puisi-puisi karya Leonowens SP, merupakan karya yang dibuat dengan kepekaan tinggi terhadap...
Berisi tiga bab, buku ini membahas persoalan bantuan asing dan kemandirian ekonomi, kebijakan polotik dan ekonomi yang amburadul, serta masalah bahan bakar minyak (BBM). Semuanya ditulis kekuatan data, argument yang cerdas, serta gaya tulisan yang membuat persoalan rumit jadi mudah.
Maka, misalnya, kita akan mengetahui dengan gambling praktik-praktik ‘sok kuasa’ Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap Indonesia. Kitapun menjadi paham: benarkah pemerintah mesti ribut soal subsidi BBM begitu harga minyak mentah dunia naik? Yang paling menarik, membaca halaman demi halamam kita seperti diperlihatkan betapa kebijakan ekonomi dan politik di Indonesia selama ini kurang berpijak pada latar.
Sebagaimana buku pertama, buku ini patut di baca oleh anggota DPR, pejabat pemerintah, akademisi, wartawan, mahasiswa, dan semua kalangan yang perduli terhadap masalah-masalah ekonomi dan politik di Indonesia