Resensi buku Maximum Ride #1: Eksperimen Malaikat (The Angel Experiment)
    
Rekayasa Genetika Apa yang ada di benakmu begitu mendengar dua kata tersebut? Percobaan dengan tikus? atau lab dengan tabung dan cawan-cawan Petri? Tokoh kita kali ini, Maximum Ride adalah seseorang remaja putri berusia 14 tahun yang serupakan hasil dari rekayasa genetika, wujudnya adalah seorang manusia yang bersayap burung sepanjang 4 meter yang memiliki kemampuan tidak hanya terbang tapi juga kelebihan-kelebihan lain yang menakjubkan. Komposisinya adalah 98 % manusia dan 2% adalah burung. Saat diceritakan, Max hidup tidak di “sekolah” lab-nya tapi dia hidup bersama kawanan yang juga hasil dari rekayasa genetika. Mereka sejumlah 5 orang bersayap: -Fang (14 tahun, lebih muda 4 bulan dari Max, tampan, cool dan rasional). -Iggy (14 tahun, lebih muda 6 bulan dari Max, buta tapi memiliki insting yang tajam). -Nudge (11 tahun, bisa tahu detail data dengan memegang bendanya). -Gasman (8 tahun, punya “kelebihan” gas di tubuhnya) -Angel (6 tahun, bisa membaca pikiran orang lain dan bernapas dalam air). Masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan saling melengkapi. Namun selain sama-sama punya sayap ada satu lagi persamaannya yaitu sama-sama punya selera makan yang luar biasa!. Mereka tinggal di salah satu rumah di pegunungan atas usaha Jeb Batcheler, salah satu ilmuwan (ilmuwan di lab biasa disebut mereka Jas putih) yang sudah dianggap sebagai Ayah angkat, sehingga mereka dapat hidup “normal” layaknya keluarga, keluarga tanpa pertalian darah. Sayangnya Jeb meninggalkan mereka dua tahun lalu dan diyakini dibunuh oleh anggota lab yang lain, sehingga akhirnya Max (yang usianya paling tua) yang mengambil alih tanggung jawab merawat ke 5 kawanan yang lain. Ketenangan hidup keluarga bersayap tersebut terusik oleh mahluk rekayasa lain yaitu mahluk berwujud manusia yang bisa berubah menjadi serigala raksasa yang siap mencabik-cabik apapun yang ada dihadapannya, mereka menyebutnya Pemusnah. Dalam keadaan normal mereka adalah manusia sempurna bak foto model namun saat bertemu mangsanya dia langsung berubah wujud. Dua kawanan yang saling bermusuhan ini memang sengaja diciptakan oleh “Direktur” yang belum diketahui. Kisah 6 anak-anak rekayasa genetika yang masih dibawah umur ini sarat diwarnai pertarungan demi pertarungan dengan para Pemusnah. Perjalanan panjang dan melelahkan dijalani tiada henti untuk menghindarinya. Awal dari segala mimpi buruknya adalah saat Angel, salah satu kawanan paling kecil yang berumur 6 tahun berhasil ditangkap oleh pemusnah yang salah satunya adalah Ari, anak Jeb dan dibawa kembali kesekolah. Angel yang memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain dibawa ke lab tempat para Jas putih bekerja melakukan ekperimen-demi eksperimen. Dan saat berada di lab, Angel bertemu dengan Jeb lagi. Sayang Jeb yang ditemuinya saat ini bukanlah Jeb yang bisa di baca pikirannya lagi. Hal itu membuat Angel tak pernah buka mulut. Para kawanan lain tentu saja tidak tinggal diam menghadapi situasi bahwa Angel diculik. Akhirnya perjalanan menempuh bahaya ke lab yang menjadi tempat sekolah yang paling mengerikan itu dilakukan juga. Awalnya Iggy yang buta tidak diikutkan dalam perjalanan dan Gasman bertugas menemaninya, namun saat para pemusnah terus menyerang maka akhirnya tak ada pilihan lain mereka berdua akhirnya menyusul. Dalam perjalanan, Saat Max menolong seorang gadis kecil Ella, yang diganggu oleh berandal yang hendak mencelakainya, Max mengalami luka tembak di lengan dan sayapnya. Beruntung ibu anak yang ditolongnya adalah seorang dokter, dr. Martinez biarpun dokter hewan. Akhirnya Max mendapatkan perawatan medis untuk mengobati lukanya. Saat di foto Rongten dia tahu bahwa didalam tubuhnya tertanam microchip kecil. Barangkali itulah kenapa para pemusnah bisa dengan cepat mengetahui keberadaan Max dan kawan-kawannya. Berada dirumah kemudian ada ibu yang menerimanya apa adanya (kenyataan bahwa dia bersayap) dan makanan lezat serta kehangatan sebuah keluarga sungguhan membuat Max seperti di awang-awang. Obsesi tentang orang tua yang dia miliki dan meyakinkan diri bahwa dia lahir bukan ditetaskan dari telur tapi dari rahim seorang Ibu masih kuat melekat dibenaknya. Saat melanjutkan perjalanan ke sekolah lab, mereka berlima masih saja menghadapi gangguan-gangguan dari para pemusnah. Akhirnnya dengan susah payah mereka berhasil sampai di sekolah lab yang dituju, dan bisa dipastikan pemusnah ada dimana-mana termasuk Ari. Dalam sebuah pertarungan sengit, Max, Nudge dan Fang tertangkap, mereka dimasukkan dalam kandang mirip kucing dan anjing di petshop yang siap untuk dijual. Pada suatu ketika, kandang mereka didorong keluar ruangan dan berada ditempat latihan pemusnah di tanah lapang dekat lab, Iggy dan Gasman datang menyelamatkan dibantu elang-elang sungguhan yang sarangnya dekat dengan mereka saat sembunyi dari pemusnah. Angel, Max, Nudge dan Fang Akhirnya bisa lolos dari Lab. Berhasil lolos dari lab bukanlah akhir dari semua petualangan, saat berada ditebing dekat sarang burung elang, Max mengalami sakit kepala yang luar biasa hingga tak kuasa mengepakkan sayapnya. Saat terjatuh, Fang mengangkat kembali tubuh Max. Max merasa ada suara-suara dalam otaknya yang memberi petunjuk tentang jati diri dan asal-usul kawanan bersayap tersebut yang berada di New York di sebuah Institut bernama Intitut Kehidupan. Apakah Institut Kehidupan itu? Ada apa dengan Max? Akankah Max dan kawanan lain bisa menemukan tempat tersebut dan mengetahui asal usulnya? Lantas apa pula rahasia Jeb dan Ari? Kalo di certain semua-muanya gak seru kali ya…, jadi silakan nikmati kejutan-kejutan dari James Patterson di buku Maximum Ride 1 ini, okay?! Kisah Fantasi Kisah fantasi selalu saja menarik untuk di baca. James Patterson mengembangkan cerita Eksperiman Malaikat ini idenya dari buku James terdahulu yaitu When the Wind Blows (Ketika Angin Bertiup) dan The Lake House. Berhubung saya belum baca kedua buku sebelumnya jadi saya tidak memberi gambaran apapun. Namun tulisan James yang penuh fantasi ini mengingatkan saya dengan The Golden Compas-nya Philip Pullman yang juga fantasi petualangan seorang gadis remaja, Lyra. Sementara untuk ide cerita Rekayasa genetika jika di Indonesia, mengingatkan saya pada bukunya Yonathan Rahardjo yang berjudul Lanang yang juga mengangkat tema Rekayasa Genetika yaitu Burung Babi Hutan dan sempat menjadi perbincangan di kalangan kritikus sastra beberapa waktu lalu. Kisah yang seharusnya berat ini, terasa sangat ringan di tangan James Patterson terlebih yang membicarakannya adalah anak-anak usia belasan tahun yang tentu saja kadang kalo ngomong suka asal. Barang kali jika yang jadi tokoh sentralnya adalah Jeb dan kawan-kawannya sesama ilmuwan kisahnya pasti akan di bahas secara sangat serius. Coba simak salah satu dialog saat mereka terguncang-guncang di dalam sebuah van untuk menyelamatkan diri dari para pemusnah ketika dalam perjalanan menuju lab. Dalam keadaan genting sekalipun anak-anak ini masih saja bisa membuat lelucon yang bisa membuat kita tetap tersenyum. Ah,dasar anak-anak.. “Lapor”, aku berkata lemah. (Max). “Aku oke” Fang berkata disebelahku. Lehernya tergores sabuk pengaman, yang hampir membuat kepalanya terpenggal” “Aku oke”, Nudge menimpali dari bangku belakang, terdengar kecil dan ketakutan. Aku memutar leher dan melihatnya. Iya tampak pucat,kecuali dibagian dahi yang membiru karena terbentur bangku Fang. Matanya melebar karena shock ketika melihat darah di wajahku. “Hanya hidungku” aku buru-buru menenangkan. Luka didaerah kepala memang selalu mengeluarkan lebih banyak darah. Lihat sudah mulai berhenti kok” Bohong. “Aku merasa seperti, seperti pudding” Iggy mengerang. “Puding yang terguncang. Pudding yang sangat kesakitan” (Hal. 232-233). Meskipun Novel Fantasi ini setebal 536 halaman, jangan salah, kamu bisa melahapnya dalam sekali jongkok alias tidak terlalu lama. Kisah yang dibuat dalam bab yang pendek-pendek (barang kali ini bab terpendek dari semua novel yang pernah saya baca) alur yang mengalir, terjemahan yang bagus dan font yang lumayan tidak membuat mata sakit membuat novel ini sangat layak untuk dinikmati. Ada 4 seri kisah petualangan Maximum Ride ini, tapi yang diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia sampai saat ini baru seri 1 dan 2. Meskipun buku ini ditujukan untuk bacaan remaja, novel ini sangat-sangat-sangat (upss..sampe 3x loh..! hihihi..) pantas untuk dibaca oleh orang yang tidak lagi remaja. Percayalah, kamu tidak akan berubah menjadi bayi setelah membaca tulisan Mr. James ini! Tapi seperti kata Max di awal buku; Jika kau berani membaca kisah ini, kau akan mejadi bagian eksperimen. Aku tahu kedengarannya misterius-tapi hanya itu yang bisa ku katakan sekarang. Max. So, Berani ambil bagian? --------------------------- Seri Maximum Ride- James Patterson: 1.Maximum Ride: The Angel Experiment (USA: April 11 |UK: July 4, 2005) 2.Maximum Ride: School's Out Forever (USA: May 23 |UK: August 14, 2006) 3.Maximum Ride: Saving the World and Other Extreme Sports (USA & UK: May 3, 2007) 4.Maximum Ride: The Final Warning (USA: March 17, 2008) --------------------------- |