Kampusbook.com
Keranjang belanja
Keranjang Kosong
Sub total:Rp.0
 
Search Local Books
Kata kunci:
Advanced search
Mencari buku-buku impor?
 
Beli Voucher Online
 
Top Categories
 
News and Future Release    
Holiday Books Fair
06.06.2009
Halo adik-adik..sekarang sudah saatnya memasuki musim liburan. Yuk! Isi liburan kalian dengan kegiatan yang bermanfaat, dan jangan lupa untuk tetap belajar untuk mengasah ilmu.
Gratis Ongkos Kirim
05.06.2009
Bebas Ongkos Kirim ke seluruh wilayah Indonesia. Tanpa syarat apapun.
Mengapa Belanja Menggunakan PG-1 ?
05.06.2009
Ingin belanja tapi belum punya Dompet Internet PG-1 ? Tunggu apalagi? Cek keunggulannya disini dan daftar sekarang juga..!!
PG-1 Dompet Internet: Paspor Anda menuju belanja online!
05.06.2009
Berbelanja melalui internet kini akan semakin mudah, aman dan menyenangkan dengan menggunakan dompet internet PG-1.
Indeks berita
 
Latest Reviews    
Titiek Puspa a legendary diva

04.07.2009 06:33:40 - hadisudjono
Rinci, diupayakan pengungkapan yang sejujur dan seterbuka mungkin (manusiawi bila ada yang tidak diungkap sepenuhnya). Gaya penuturan tidak membosankan. Bravo untuk Alberthiene. Mbak Titiek bisa...
Drunken Molen

23.06.2009 11:21:02
Inilah ini, tulisan semacam review atau apalah setelah membaca bukunya   Pidi Baiq yang punya judul Drunken Molen . Itulah itu, buku Baiq yang baik dan akan baik-baik saja jika tidak...
King's Smash

19.06.2009 08:36:35 - Agnes
 Akhirnya ada juga buku yang membahas kehidupan atlet bulutangkis Liem Swie King. Dia dikenal dengan King's Smash -nya. Konon katanya berdasarkan perhitungan, di setiap pertandingan 98% smes...
Lihat semua resensi
 
Customer Support
Helpdesk
 
Jadi fans Kampusbook.com di Facebook sekarang juga
Bisnis 2030, The Ultimate Business Opportunities Pay Global One, give you an easier way to pay through the world
 
Home » Catalog » Boulevard de Clichy - Agonia Cinta Monyet

Boulevard de Clichy - Agonia Cinta Monyet

[45-06-1993]

Oleh: Remy Sylado
Boulevard de Clichy - Agonia Cinta Monyet

 Rp.85.000

Beli
ISBN:9792220372
Rilis:2006
Halaman:672
Penerbit:Gramedia
Bahasa:Indonesia
Penilaian Editor:
Penilaian Pembaca:belum dirating

Lihat resensi pembaca (0)  Tulis Resensi

Featured BookNew Book
Favorite Book

Related categories:Novel Fiksi & Cerpen, Roman

Sinopsis

Banyak pelukis sejak abad ke-19 melukis kehidupan di Boulevard de Clichy. Termasuk Van Gogh, Bonnard, Cezanne, Pissaro, Renoir, Seurat, Severini, Signac. Apa yang menarik dari nama jalanan di Paris ini? Di situ, dalam novel ini, ada Anugrahati, panggilannya Nunuk, penyanyi dan penari telanjang yang dijuluki Meteore de Java. Dia terbuang namun tak menyerah, terlaknati namun terberkati. Cinta dan tanggungjawab pada kehidupan membuatnya kokoh. Demikian teladan seorang wanita yang ibu kontemporer dalam potret manusia - manusia Indonesia setelah tumbangnya Orde Baru.

Ditulis menurut realitas dengan pelbagai kemungkinan oleh pengarang mbeling Remy Sylado, yang pada tahun 2005 memperoleh anugrah Satya Lencana Kebudayaan oleh negara RI atas kepeloporannya di bidang sastra. Karya-karya Remy Sylado yang sudah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama adalah Kembang Jepun, Sam Po Kong, Kerygma dan Martyria. Selain novelis dan penyair ia juga pelukis, pemusik, aktor, dan sutradara.


 
Edit Beli
Resensi Editorial
Boulevard de Clichy: Agonia Cinta Monyet

 

Kota Paris sebagai salah satu Kota termasyur di dunia dengan Menara Eiffel-nya, sering kali diangkat kedalam sebuah kisah baik oleh pengarang,pelukis,sutradara film dan lain-lain untuk setting cerita mereka. Jika Anda penggemar Film, pasti ingat Film yang pernah dibintangi Nicole Kidman yang Berjudul Moulin Rouge, kalo untuk yang lokal ada Eiffel I'm in Love dan masih banyak lagi.

Kali ini, Remy Silado juga mengangkatnya dalam novel Boulevard de Clichy: Agonia Cinta Monyet (Rilis 2006). Boulevard de Clichy sendiri merupakan nama salah satu jalan di Kota Paris yang berisi sejumlah tempat hiburan tari telanjang. Dan disinilah tokoh utama di novel ini yang memiliki nama Anugrahati dengan panggilan Nunuk, bermukim serta bertahan hidup di Eropa, sebagai apa? Jangan kaget, Sebagai PENARI TELANJANG!

Awalnya jika melihat tebalnya novel ini, ada sedikit keraguan, akankah kisah yang tertulis didalamnya sanggup membuat pembaca tidak mati kebosanan? Setelah membaca 10 halaman pertama, saya tidak bisa melepaskan kisah dalam novel itu begitu saja. Ada dorongan untuk terus dan terus membaca hingga titik koma terakhir. Jika bukan Remy Silado yang menulis, saya sangsi akan bisa bertahan hingga lembar terakhir pada novel setebal 672 halaman ini. Sepertinya Teori Joe Vitale dalam bukunya Hypnotic Writing berlaku disini.

Nunuk yang merupakan tokoh sentral dalam novel ini, awalnya adalah seorang gadis anak seorang sopir Metromini yang memiliki cacat sumbing di bibir. Ayahnya, Bambang Suhardi yang trenyuh melihat kondisi putrinya bertekad untuk bisa mengoperasi bibirnya hingga Nunuk bisa menjelma menjadi gadis yang jelita. Saat gelap mata, Suhardi merampok seorang Ibu tua yang memiliki uang 100 juta. Uang didapat dan Suhardi akhirnya bisa membiayai operasi plastik untuk bibir Nunuk yang sumbing.

Operasi sukses dan Nunuk menjelma menjadi gadis yang benar-benar jelita. Semua lelaki yang dulu acuh tak acuh padanya berbalik 180 derajat mengejar cintanya. Salah satu “pengagum dadakan” itu adalah Budiman. Dia anak tunggal Ketua DPRD, Waluyojati. Kisah terus berlanjut, Nunuk yang sudah lama kurang mendapat perhatian seakan menjadi bintang dan berbunga-bunga mendapat perhatian berlebih dari Budiman. Apalagi Budiman anak tunggal orang yang lumayan kaya karena korupsi.

Rayuan gombal Budiman di hayati Nunuk sampai ke ranjang. Tak urung Nunuk akhirnya memiliki benih Budiman di rahimnya. Lalu apakah mereka akan menikah kemudian bahagia selama-lamanya? Jika saja kisah cinta Nunuk-Budiman sebatas itu, mungkin novelnya tidak perlu setebal ini.

Dan Nunuk tidak akan mengalamai Agonia (ago·nia Dok 1 n penderitaan berat; 2 a sekarat; Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia) selama hampir 5 tahun di Paris.

Setelah “ditolong” oleh pengacara kenalan pemilik Metromini tempat Suhardi bekerja, akhirnya Ayah Nunuk memperoleh uang lumayan banyak dari Waluyojati. Nunuk memilih untuk tinggal di Belanda di tempat saudara Ibunya, Ellen yang memang berdarah campuran Indo-Belanda. Nunuk akhirnya sekolah di Sekolah Tinggi teater, Fontys Academie voor Drama di Kanaalstraat-Eindhoven, Belanda. Dalam salah satu pentas teaternya, Nunuk bertemu dengan salah seorang pencari Bakat bernama Albeni, keturunan Turki yang sepertinya terlihat sebagai orang baik untuk mengajak Nunuk bekerja di Paris. Nunuk yang masih polos, ho-hoh saja setelah menyeleseikan masa studinya untuk ikut Albeni di Paris. Inilah episode lanjutan segala Agonia, hingga Nunuk menjadi penari telanjang paling bersinar dan mendapat julukan Meteore de Java di Boulevard de Clichy.

Selama di Paris, Nunuk tidak pernah tahu bahwa Budiman juga berada disana. Alasan berangkatnya memang akan kuliah, tapi sesampai disana waktunya lebih banyak habis untuk luntang-lantung dijalan bergaul dengan pelukis jalanan dan menghabiskan uang orang tuanya yang memang memanjakannya dari uang hasil korupsi.

Akankah nantinya Budiman bertemu dengan Nunuk? Dan akankah kebusukan Waluyojati juga “The Untouchable” dibelakangnya yang setali tiga uang suka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya hingga mengorbankan orang lain dan nantinya membahayakan hidup Nunuk juga Budiman, kejahatannya akan terbongkar? Novel ini akan memberi jawaban semua pertanyaan diatas.

Kisah agonia cinta monyet Nunuk dan Budiman ini dibungkus dengan intrik politik yang sedang terjadi pasca tumbangnya orde baru. Masih dengan korupsi dan kolusi yang demikian kental ditubuh pemerintahannya.

Diselingi dengan banyaknya peribahasa disana-sini dan percakapan dalam bahasa Prancis menjadikan Novel ini begitu berwarna dan memberi banyak wawasan baru.

Peribahasa seperti:

 Menggantang asap mengukir langit (hal.140) .

Semut di seberang laut nampak, gajah dipelupuk mata tak tampak (hal.142).

Sungguh bersubang tiada berdara (hal.151).

Akal labah-labah di gua buruk suka merakut (hal.156)

Dan masih banyak lagi peribahasa yang diselipkan dalam paragraph-paragraf kisah ini. Remy bisa meramu sedemikian rupa hingga membuat kisah ini begitu menarik untuk disimak tanpa “membuang-buang bahasa” (baca: pemborosan kata) yang tak berarti.

Ibarat pepatah, tak ada gading yang tak retak, demikian dengan Novel ini, sebenarnya saat Nunuk sudah memiliki cukup uang setelah beberapa tahun di Paris. Kenapa dia tidak memutuskan untuk segera kembali “ke-jalan yang benar” saja? Kenapa harus menunggu hingga 4 tahun lebih? Ah, yang tahu jawaban itu sepertinya hanya Bung Remy sendiri.

 

------------------------------------------------

Tips Editor: Siapkan buku kumpulan peribahasa milik Anda (jika ada) untuk tahu arti yang sebenarnya tentang semua peribahasa yang tercantum di Novel ini.

 

 


How to Shop  Order and Return Policy  Privacy Policy  Publisher CLICK HERE    Writer CLICK HERE   Contact Us© 2008, KampusBook.com or its affiliates.
All Rights Reserved.