Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh: Dr. Sabariamsyah, S.Pd, M. Hum
(Praktisi Pendidikan di Jepang)
Berbagai peristiwa penting atau berkesan dalam kehidupan, menjadikan setiap orang akan selalu berbeda cara dalam...
Oleh : Muhammad Dullah Rivani
(Pemerhati Sastra dan Agama, bermukim di Doha, Qatar)
Puisi-puisi karya Leonowens SP, merupakan karya yang dibuat dengan kepekaan tinggi terhadap...
Membaca novel-novel Dan Brown bersiaplah untuk bergadang. Itulah selalu yang selalu saya alami. The Lost Symbol menjadi pengalaman ketiga setelah The Da...
Tanpa berkata apa-apa, Winnetou menuruti permintaanku. Matanya tidak berkedip, tetapi pandanganya tidak lepas menatap wajah Klekih-Petra. Kedua kelopak mata Klekih-Petra dengan perlahan mulai membuka. Dia melihat Winnetou yang berlutut di depannya. Senyum bahagia terbesit begitu cepat pada roman mukanya dan dia berbisik, “Winnetou, schi ya Winnetou. Winnetou, oh, anaku, Winnetou!”
Kemudian, tampak matanya seperti masih mencari-cari seseorang. Pandangannya tertuju ke arahku dan dia berkata kepadaku dalam bahasa Jerman, “Dampingilah dia, setialah selamanya!”
Melanjutkan Seri Winnetou Buku Satu, Pada Buku Dua yang berjudul Guru Suku Apache ini, mengantarkan Karl bertemu dengan suku Indian Apache. Tidak tanggung-tanggung Karl bertemu langsung dengan pimpinan tertinggi suku tersebut yaitu Klekih Petra, serta Bapak dan Anak petinggi suku tersebut Intschu Tschuna dan anaknya Winnetou.
Kisah kedua ini diawali dengan kekecewaan Karl akan proyek rel kereta Api yanng ditanganinya di wilayah suku Apache. Dia kecewa dengan segala kelakuan rekan kerja tim-nya yang cenderung malas dan lebih senang bermabuk-mabukan daripada bekerja. Untungnya dia masih memiliki Sam Hawkens seorang Westman yang lumayan bisa diajak kerja sama.
Dimulailah petualangan baru bersama Sam, berburu Bison, menangkap Mustang yang akhirnya dapat seekor Bagal (blasteran kuda dengan keledai), hingga tak sengaja berburu Beruang Grizzly yang besar, ganas dan mengerikan.
Akhir perburuan Beruang Grizzly yang akhirnya mati ditikam Karl menimbulkan konflik internal dengan rekan sekerjanya Rattler yang sejak awal memang tidak menyukainya. Pertengkaran itu berhenti sejenak begitu ada 3 orang suku Apache yang datang mendekat. Ke-3 orang suku Apache yang tak lain adalah pejabat tinggi suku tersebut akhirnya menyulut pertengkaran antara Suku Apache dan rombongan penggarap proyek rel kereta api yang ada Karl di dalamnya.
Adu mulut terus berlangsung hingga peristiwa yang sangat tidak diharapkan terjadi. Peristiwa apakah itu?
Ikuti terus petualangan Karl di Buku Winnetou ini, dan jangan sampai ketinggalan juga
Winnetou Buku Tiga – Suku Kiowa yang ditanggung lebih seru dan menegangkan.