Kampusbook.com
Keranjang belanja
Keranjang Kosong
Sub total:Rp.0
 
Search Local Books
Kata kunci:
Advanced search
Mencari buku-buku impor?
 
Beli Voucher Online
 
Top Categories
 
News and Future Release    
DAFTAR PEMENANG UNDIAN NATAL 2008
24.12.2008
Selamat bagi para pemenang undian. Lihat daftar pemenang disini...
Selamat Hari Natal 2008 & Tahun Baru 2009
22.12.2008
Kami mengucapkan Selamat Hari Natal 2008 & Tahun Baru 2009. Silakan membaca jadwal kerja Operasional kami..
Mengapa Belanja Menggunakan PG-1 ?
21.12.2008
Ingin belanja tapi belum punya Dompet Internet PG-1 ? Tunggu apalagi? Cek keunggulannya disini dan daftar sekarang juga..!!
PG-1 Dompet Internet: Paspor Anda menuju belanja online!
21.12.2008
Berbelanja melalui internet kini akan semakin mudah, aman dan menyenangkan dengan menggunakan dompet internet PG-1.
Indeks berita
 
Latest Reviews    
kebaya pengantin muslimah

04.01.2009 21:28:55 - ummi
aku baru aja beli buku ini, di gramedia blok m..sekitar 2 minggu yg lalu.. aku butuh referensi untuk kebaya yg mw aku pakai di akad ku nanti (Insya Allah), dan ternyata hanya buku ini satu2nya...
Menuju abad 21

30.12.2008 08:06:00 - FATHINATUL HASSANAH
IDENTITAS BUKU   Buku ini berbicara tentang organisasi non-pemerintah. Pada intinya, David Korten ingin menyatakan bahwa kehidupan manusia berada dalam krisis. Kita harus berani...
Rubaiyat Misteri tak Terlupakan

17.12.2008 12:57:19 - Mohamad Asrori Mulky
Rubaiyat Misteri Tak terlupakan Dimuat di Koran Jakarta, 13 Desember 2008 Oleh Mohamad Asrori Mulky Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta. ...
Lihat semua resensi
 
Customer Support
Helpdesk
 
Bisnis 2030, The Ultimate Business Opportunities Pay Global One, give you an easier way to pay through the world

 
Home » Catalog » Intel : Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia

Intel : Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia

[187-07-26040]
Oleh: Ken Conboy
Intel : Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia

 Rp.55.000

Beli
ISBN:9789793930152
Rilis:2007
Halaman:0
Penerbit:Pustaka Primatama
Bahasa:Indonesia
Penilaian Editor:
Penilaian Pembaca:belum dirating

Lihat resensi pembaca (0)  Tulis Resensi

Featured BookNew Book
Favorite Book

Sinopsis

Buku-buku yang mengungkap tentang CIA, MI6, Mossad, atau KGB sudah banyak, termasuk versi bahasa Indonesianya; tapi ironisnya, orang Indonesia justru sama sekali tidak tahu-menahu tentang kegiatan intel di negaranya sendiri.

Inilah buku pertama yang memaparkan secara menyeluruh tentang sejarah intelijen Indonesia berikut kegiatannya, sejak awal kemerdekaan hingga masa kini dan disusun berdasarkan wawancara langsung dengan para pejabat intelijen, serta dilengkapi berkas-berkas arsip yang diperoleh langsung dari sumbernya. Tak lupa disertai foto-foto, termasuk buku harian yang berkaitan dengan rencana pengeboman yang ditulis salah seorang teroris yang tertangkap.

Mengungkap tuntas bermacam kasus dan latarbelakangnya, dari pelatihan agen intel pertama hingga Komando Jihad, dari penculikan anak hingga Timor Timur, dari uang palsu hingga Jamaah Islamiah, berikut seribu tanya: berapa orang jumlah agen intel Indonesia angkatan pertama? Benarkah sejak zaman Order Lama Indonesia sudah mengincar Timor-Timur? Kesalahan telak mana yang menyimpulkan Dokumen Gilchrist itu palsu? Siapa agen-agen kiri Indonesia yang dipakai Satsus Intel? Benarkah pembajakan pesawat Woyla itu rekayasa ‘pemerintah’? Siapa al Farouq itu sebenarnya? Seberapa jauh penyusupan Al Qaeda di Asia Tenggara dan di Indonesia pada khususnya? Siapa yang memulai kasus Poso sebenarnya?

Dengan membaca buku ini Anda akan lebih memahami dan menghormati jerih-payah agen-agen intel Indonesia dalam mempertahan kedaulatan negeri ini. Seperti yang dikatakan Zulkifli Lubis, bapak intelijen Indonesia, mereka adalah: “prajurit bayangan yang bertempur dalam perang adu pintar”.



 


Related categories:Novel Fiksi & Cerpen, Hukum, Sosial & Politik
 
Edit Beli
Resensi Editorial
Pilih resensi:
James Bond Indonesia -- "Intel; Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia"

DUNIA intelijen dalam film seolah aksi yang tiada henti sepanjang alur cerita. Salah satu film yang menampilkan sosok intel adalah serial ”James Bond” yang memiliki
kode rahasia 007. Sementara di dunia nyata, sepak terjang intel bisa saja ada kemiripan
dengan lakon film, bisa juga ada sisi-sisi lain yang berbeda.

Perjalanan sejarah dunia intelijen di Indonesia yang juga kutipan sejumlah operasi yang pernah dilakukan lembaga intelijen di tanah air, setidaknya dapat diketahui dari buku karya Ken Conboy yang berjudul ”Intel; Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia”.

Buku karya konsultan keamanan di Jakarta ini membukakan mata bahwa ketika ada satu kepentingan yang sama, Amerika Serikat tidak tanggung-tanggung memberikan bantuan dana, peralatan militer, hingga pelatihan bidang spionase. Namun ketika kepentingan itu hilang, negara yang semula didukung bisa berbalik 180 derajat menjadi seteru. Terkadang, pihak-pihak yang melakukan pemberontakan terhadap suatu negara mendapat pelatihan pula dari as (hal. 15, dan penjelasan hal. 19).

Hal itu mengingatkan pada kasus Iran-Contra pada tahun 1980-an, ketika negara adikuasa ”bermain-main” secara diam-diam dengan pihak yang menjadi lawan suatu
pemerintahan/negara. Kasus Iran-Contra berupa penjualan senjata secara ilegal kepada negara Iran. Nah, uang yang diperoleh dari penjualan senjata itu digunakan untuk mendanai kelompok pemberontak Contra di negara Nikaragua.

Saat perang dingin, musuh besar negara adidaya AS dan sekutunya adalah paham komunis.
Tak heran jika AS memberikan berbagai perhatian lebih terhadap maraknya gerakan komunis di kawasan Asia, termasuk ketika berperang di Vietnam.
Indonesia yang juga menghadapi persoalan dengan komunis melalui PKI, menjadi ”sahabat dekat” AS pada kurun waktu tersebut. Sejumlah personel dikirim
mengikuti pelatihan intelijen di Pulau Saipan, yaitu pulau yang berada di kawasan Pasifik dan di bawah wilayah AS. Akan tetapi, AS juga bermain mata dengan melatih sejumlah pemberontak di Sumatra dan Sulawesi di Pulau Saipan.

Akibat digunakan CIA untuk pelatihan, Pulau Saipan tertutup dari dunia luar antara tahun 1953-1962. Dalam menghadapi komunis, intel Indonesia mendapat pelatihan khusus menangkap mata-mata (spy catcher) dan juga memata-matai mata-mata asing. Yang menjadi sasaran biasanya para diplomat atau staf kedutaan dari negara-negara yang berhaluan komunis, semacam Uni Soviet, Korea Utara, dan Vietnam.


Terkadang ada hal yang menggelikan saat melakukan penyadapan, semisal alat sadap harus segera diambil karena ternyata dipasang pada mebel yang akan diganti. Atau, ada juga yang tersadap justru pembicaraan dan hubungan intim target dengan pelacur. Ada juga keisengan petugas intel yang mengerjai seorang warga asing saat berada di Bali. Ternyata keisengan petugas intel juga dilakukan intel Jepang yang mengacak-acak bawaan target tersebut selama dua jam, sehingga target dibuat kapok atau jera untuk datang kembali ke Jepang.
 
SEIRING dengan memudarnya komunisme dan runtuhnya sejumlah negara komunis, perhatian AS mulai surut dan beralih ke isu lain. Kondisi itu turut mengakhiri bulan madu aparat intelijen Indonesia dengan mentornya pada tahun 1997. Bahkan, pada era pemerintahan B.J. Habibie, Pimpinan Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) saat itu, Z.A. Maulani mengganti seluruh peralatan bantuan AS dengan peralatan dari Inggris.

Tak heran jika isu yang diusung bukan lagi membendung komunis,melainkan demokratisasi dan HAM. Itu pula yang terjadi jika dulu militer Indonesia dengan mudah memiliki peralatan dari AS dan sekutunya, kini peralatan militer itu mulai tak berguna menyusul embargo sukucadang dan beberapa pesawat yang sedang dirawat tidak bisa diambil kembali.

Dengan isu perang melawan terorisme, kini mitra AS beralih dari militer kepada jajaran kepolisian. Jika kelak isu terorisme sudah tak terpakai, akankah bulan madu AS dengan kepolisian berakhir pula? Yang agak mengganggu dari buku ini adalah terjemahan yang kadang agak kaku, sehingga perlu sedikit waktu untuk ”mengunyahnya”. Akan tetapi, setidaknya bisa diketahui latar belakang sejumlah peristiwa semacam Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974 yang ditengarai berlatar belakang persaingan (rivalitas) antara Kepala Kopkamtib Letjen Ali Murtopo dan Waka Kopkamtib Jenderal Soemitro.

Selain itu, disinggung pula mengenai peristiwa G30S/PKI dengan kehebohan dokumen Gilchrist, penjualan peta rahasia militer kepada agen Soviet pada tahun 1982, dan pembajakan pesawat Garuda Woyla tahun 1981. Ada pula lintasan sejarah keberadaan Bakin (kini BIN/Badan Intelijen Negara), termasuk kisah masing-masing Kepala Bakin, BIN. Namun, setidaknya buku ini membuka apa yang pernah dilakukan aparat intelijen Indonesia, termasuk sisi-sisi lain yang terkadang menggelikan saat melakukan pengintaian terhadap agen intelijen asing. Ringkasan lain tentang James Bond Indonesia -- "Intel; Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesi.


Oleh : McDeeck
 


Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1699920-james-bond-indonesia-intel-men guak
 


How to Shop  Order and Return Policy  Privacy Policy  Publisher CLICK HERE    Writer CLICK HERE   Contact Us© 2008, KampusBook.com or its affiliates.
All Rights Reserved.