Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kami kepada Pelanggan, maka seluruh staff akan menjalankan training diluar kota pada tanggal 26 - 30 Januari 2010. Oleh karena itu, selama masa training, order akan diproses dan dikirim pada tanggal 1 Februari 2010.
Menguak Jiwa Penyair Perempuan di Dunia Maya
Oleh: Kurniawan Junaedhie
Kriteria apa yang dipakai untuk memuat puisi para penyair yang ada di Facebook ke dalam buku ini? Tidak ada. Malah...
kalau anda menganggap hidup anda biasa biasa saja, maka cobalah untuk menemukan harta terpendam dengan berkaca pada pengalaman mitch albom dan morrie dalam pertemuan mereka setiap hari selasa
Resensi Buku ::: To Bee or Not To Bee
Judul : To Bee or Not To Bee, Lebah yang Bosan Mencari Madu
Penulis : John Penberthy
Tebal : 154 halaman
Cetakan : 2009
Penerbit : PT...
Membaca Perjalanan Sajak-sajak KJ Oleh: Handrawan Nadesul
Membaca sajak-sajak Kurniawan Junaedhie sampai sekarang, seperti membaca kembali saat hari pertama kali ketemu KJ atau Jun –begitu saya biasa memanggilnya-- di Purwokerto lebih 30 tahun lalu. Saya kira mulut Jun tidak lebih lincah dari pikiran-pikiran yang mengalir dalam sajaknya. Saya sudah melihat sajak-sajak Jun waktu itu bukan sajak biasa.
Lebih 30 tahun kemudian, nyatanya saya tidak ingin berhenti membaca seluruh sajak produksi sampai tahun 2009 yang ia email dalam format Pdf. Tak kurang dari dua jam suntuk saya membaca semuanya, dengan beberapa kali ada yang perlu saya mengulang membacanya.
Membaca kembali sajak-sajak itu saya seperti sedang membaca kembali masa lalu milik banyak siapa, dan saya ikut meleleh begitu saja bersamanya. Enak juga rasanya melayang-layang bersamanya di sana, ketika sekarang hidup di luar habitat penyair saya sendiri makin merasa asing.
Jun memang istimewa. Masih seperti dulu, ia centil dalam pikiran, nakal dan liar imajinasinya, sajaknya mengalir sangat lentur dan encer, lalu mengena di hati. Kata orang, sajak tak perlu dimengerti, tapi dinikmati. Saya sudah menikmatinya.
Sajak Jun lahir dari momen pilihan yang ranum, yang dipungutnya dari mana-mana. Mungkin hanya cipratan kenangan, tidak dari awang-awang, bukan pula harus yang berbunga-bunga. Sajak-sajaknya sosok yang sederhana tapi buat saya sungguh menyentuh sekali.
Lebih dari itu, Jun jujur sekali. Tema-tema sajaknya milik siapa saja. Tapi bagaimana pikiran, perasaan, dan sikap Jun yang saya duga apa adanya terhadap tema yang dipungutnya bisa dari mana saja, dan entah kapan saja itulah yang menjadikannya bukan sajak biasa.
Imajinya kaya. Nuansa yang dibangunnya terstruktur mengantar kita menyelami ketajamannya membuahkan pikiran-pikiran, kedalamannya beremosi, dan keteguhannya bersikap. Sajak yang senantiasa terasa memberi gelegak, dan kita terpagut olehnya justru karena dituang seadanya, dengan jujur sekali.
Sekali lagi kekuatan saja-sajak Jun kesederhanaan menuangkan kecerdasannya berpikir tentang tema yang diusungnya. Jun saya kira penyair yang cerdas. Kecerdasan dalam menyair penting kalau sajak masih mau dibaca orang. Dan pada Jun amat ditunjang oleh pengalaman emosi, penggalan kenangan, dan nostalgia yang seakan tak pernah selesai. Ihwal kerinduan, rasa sepi, rasa cinta, sesal, dan kecewa menjadi kendaraan pilihan dari mana Jun, atau siapa pun penyairnya, memberangkatkan semua catatan hati dan pikirannya. Jun tidak salah arah dan benar pula cara menempuhnya. Saya kira Jun masih seorang penyair. Roh sajak-sajaknya kental dan pekat. Sekali lagi perlu dibilang, kekuatan sajak-sajak Jun dalam hal membuahkan pikiran-pikiran yang dengan keinsafan penuh tidak mau terjebak menjadi emosional, namun longgar dan bersahaja saja.
Kalau ada kekurangan Jun dan sajak-sajaknya yang perlu diungkap, Jun sudah membuat saya cemburu. Cemburu karena Jun jeli dan cerdik membuat yang sederhana menjadi akbar. Sekurang-kurangnya pada perasaan hati saya sendiri. Proficiat Jun, dan terima salam tabik dari saya, masih Hans yang dulu.
Jakarta Juli 2009
* Handrawan Nadesul, seorang dokter dan penyair. ------------------------------------------------
Apa Kata Sejawat?
Sony Farid Maulana (Penyair & Wartawan, Bandung): Membaca puisi yang ditulis oleh penyair Kurniawan Junaedhie adalah membaca sejarah puisi Indonesia itu sendiri, yang tidak hanya ditulis oleh satu orang penyair, melainkan ditulis oleh banyak orang, tak putus-putus dari generasi ke generasinya. KJ hadir di dalamnya dengan segala pergulatannya dalam mencari bentuk pengucapan yang khas miliknya pribadi. Sajak-sajaknya menampilkan kesederhanaan daya ucap, namun tidak demikian dengan isi yang dikandungnya, penuh makna. KJ adalah sosok penting bagi zamannya. Apa yang telah dihasilkannya selama ini, bisa kita apresiasi dalam kumpulan puisi ini, bahwa ia bukan penyair sekedar.
Adhie M Massardi (Penyair, Wartawan & Aktivis, Jakarta): Satu hal yang nyaris tak dimiliki oleh profesi lain kecuali penyair adalah Kesetiaan. Tapi sebaik-baik penyair adalah yang memiliki kesetiaan kepada Cinta. KJ memiliki vitalitas luar biasa dalam Cinta, yang ditorehkan atau disembunyikan dalam sajak-sajaknya, dari tahun ke tahun.
Dharmadi (Penyair, Purwokerto): Bermacam jalan hidup dan kehidupan telah ditempuh KJ. Tetapi Mas Jun, begitu saya menyapanya, yang telah saya kenal sejak tahun 1970-an, ternyata seorang lelaki yang tak pernah padam daya kreativitasnya. Kadang saya ngiri juga.
Hendry CH Bangun (Penyair & Wartawan, Jakarta): Yang paling menyenangkan dari membaca sajak-sajak KJ adalah kita sering merasa menjadi subjek dari sajak itu. Sajaknya seperti mewakili diri kita dalam berbagai peristiwa, seperti dunia yang penuh rasa bimbang, cinta yang mengasyikkan, hidup yang penuh liku.
Fakhrunnas MA Jabbar (Penyair, Pakanbaru): Sederhana, akrab dan konsisten. Itulah 35 tahun perjalanan puisi-pusi KJ. Kesederhanaan tema yang mengungkap dialektika jiwa membuat puisi-puisi KJ terasa akrab bagi siapa saja. Istimewanya, konsisten KJ selama 35 tahun yang tetap terasa hingga kini.
Dianing Widya Yudhistira (Novelis, Cerpenis & Penyair, Jakarta): Mas Kurniawan di samping piawai membuat cerpen, juga terampil melahir- kan puisi. Puisi-puisinya menyentuh dan kadang mengharukan. Saya ingat salah satu puisinya tentang ibu.
Iwan Soekri (Penyair, Bekasi): KJ adalah pendekar kata-kata yang mahir sekali memainkan kata-kata sebagai pedangnya, yang dapat menohok langsung pembacanya, terutama dalam menyusun puisinya. Puisinya selalu mengusung kata-kata sederhana, namun KJ, menghadirkan kata-kata itu menjadi sebuah senjata tajam dalam mengkomunikasikan pesan-pesannya kepada pembaca.
Salimi Ahmad (Penyair, Tangerang): Satu lagi jejak langkah dari seorang KJ, yang piawai dalam mengolah kata, dapat kita nikmati. Sebuah kumpulan puisi yang memberi kontribusi warna warni bagi perkembangan sastera di Indonesia. Selamat, dan salam sastra untuk Indonesia !
Adri Darmadji Woko (Penyair dan Wartawan, Depok): Percintaan seekor singa? Saya tidak tahu apa kisah cintanya secara intents atau mengikuti naluri keliarannya. Saya merasakan, kecintaan KJ terhadap puisi lantaran nalurinya yang buas’ demi menyalurkankreativitas yang tak terbendung. Saya mengenal KJ sejak awal kepenyairannya 35 tahun lalu. Ibarat singa yang lapar dan haus pada cinta, KJ menulis puisi bukan sebagai obyek, melainkan sebagai kebutuhan batinnya.
Dharnoto (Dramawan & Wartawan, Tangerang): Walau bersahaja, sajak-sajak KJ terasa berenergi. Seperti aum singa. Mencakar udara. Namun, seiring usia, singa itu lebih bijak dalam mengaum. Lebih platonik. Lebih familiar. Lebih membelai. Tapi tetap singa. Bagi dirinya sendiri.
Saut Poltak Tambunan (Novelis & Penyair, Bekasi): SURVIVAL BY THE PEN! Mungkin ungkapan ini paling pas untuk seorang KJ yang 35 tahun jatuh bangun di dunia tulis menulis. Jika ia membukukan puisi ( menurut pengakuannya ‘memalukan dan mengecewakan’) sebagai rekaman perjalanan hidupnya, itu juga membuktikan bahwa KJ sangat piawai dalam mengolah rasa dan kata, apa pun bentuknya. Selamat, Kawan KJ, saya ikut ‘malu dan kecewa’. Anda orang besar yang dibesarkan oleh karya sastramu sendiri!
Aant S Kawisar (Penyair, Yogyakarta): Bagi saya, terbitnya kumpulan puisi ini, pertama-tama dan yang terpenting adalah hadirnya sosok kepenyairan seorang KJ secara utuh. Terlebih karena dalam waktu yang cukup lama KJ seperti menghilang dari dunia kepenyairan. Keutuhan tersebut tampak pada konsistensi KJ pada bentuk pengucapan “aku lirik”yang telah dilakoninya sejak awal kepenyairannya, yakni “aku” yang membaca “diriku” secara jujur, kocak, dan tragik, dalam ruang keseharian. Mulai dari cita-cita sederhana yang pernah hinggap pada masa kanaknya untuk menjadi seorang masinis kereta, pergumulan hidup sebagai warga urban di Jakarta, torehan kenangan akan kampung-halaman, cinta, keluarga, dan seterusnya, hingga sampai pada pengakuannya, bahwa “aku bukanlah Hamlet, tapi hanya seorang KJ yang memberontaki hidup karena didesak 1001 keinginan duniawi”. Secara keseluruhan, keutuhan sosok kepenyairan KJ kian lengkap ketika ia sampai pada keterbatasan dimensi raung dan waktu dalam beberapa sajak terakhirnya, sebagai bentuk kesadaran adanya batas sebuah perjalanan, dengan hadirnya bayang-bayang kematian di rambut yang memutih, dan sudah menguning kartu-kartu natal yang dikirim Adri….; Jujur, kocak, dan tragik.
Handry TM (Penyair, Semarang): Membaca sajak-sajak KJ, seperti membaca loncatan pikiran sang penyair tanpa beban metafor, simbol maupun ungkapan yang ditata-tata. Sesuai dengan titi - mangsa penulisannya, di masa ia sangat remaja, lahirlah puisi-puisi romantik macam ‘Puisi Bulan September’ yang sangat langsung, namun juga sangat simbolistik ketika KJ menuliskannya di saat usia matang. Yang pasti, selalu kutangkap isyarat cinta dari sajak-sajaknya...
Adek Alwi (Penyair & Cerpenis, Depok): Bagi saya, puisi elok itu bak jendela. Menampakkan, membuka, membuat yang jauh jadi akrab. Sajak-sajak KJ tergolong demikian, bahkan sejak ia rajin menulis puisi di tahun 1970-an. Di dalamnya saya juga bersua aroma pantun bagai halnya sajak-sajak Sitor Situmorang; Sesuatu yang akrab dengan latar budaya saya.
Ags. Arya Dipayana (Penyair, Aktor & Dramawan, Jakarta): Lewat sajak-sajaknya, KJ berhasil menyulap peristiwa sehari-hari menjadi ruang kontemplasi. Kadang seperti igauan, gumam, renungan atau tawa lirih dalam nada rendah. Pada saat yang sama, peristiwa-peristiwa kecil itu menjadi metaforik, akrab dan hangat, justru karena kesederhanaannya.
N. Syamsuddin Ch. HAESY (Penikmat Puisi, Jakarta): Kurniawan Junaedhie, yang saya kenal sejak lama, secara pribadi adalah penyair yang saya hormati. Puisi-puisinya sejak masa remaja, ketika sempat saya koleksi dengan baik. Tak hanya puitik, kebanyakan puisi-puisi KJ termasuk ‘puisi alit’ (pinjam istilah Pak Piek Ardiyanto) yang indah. Di dalam puisinya, kata tak berhenti hanya sebagai kata, melainkan padu padan estetika – artistik – dan etika. Sebagai seorang yang tidak pernah sukses menulis puisi, saya ‘cemburu’ dengan kepiawaiannya menulis puisi. Sampai kini, saya selalu menempatkan puisi-puisi KJ laksana “diam yang selalu berbicara”. Entah kapan saya bisa menulis puisi seperti KJ melakukannya. Dan 35 tahun kepenyairan KJ, bagai kendara yang melaju sangat cepat, sementara saya masih berjalan di tempat, mereka dan mengeja bagaimana cara menulis puisi. Sukses KJ.
Kurnia Effendi (Penyair & Cerpenis, Jakarta): Kurniawan Junaedhie sejak awal menempuh jalan lugas: membangun makna puisinya melalui harmoni antara gagasan, perasaan lelaki, dan peristiwa yang cepat ditafsir sebelum berubah suasana. Sepertinya ia sangat percaya bahwa nilai puitik dari sebuah sajak tidak semata disusun dari diksi yang indah dan genit. Setelah 35 tahun menyair, karakternya semakin kokoh, justru dengan kesederhanaan metafor yang dipilihnya.
Timur Sinar Suprabana (Penyair, Aktor Pertunjukan Seni Baca Puisi dan Spiritualis, Semarang): Sajaksajak Kurniawan Junaedhie menjadi komunikatif, menyentuh dan menarik justru karena inilah sajaksajak yang lahir dan hadir nyaris tanpa akrobat katakata dan juga justru karena tak diberati dengan lekapanlekapan metafora yang gelap. Sungguh sajaksajak yang Jujur dan oleh karenanya menjadi Indah sebab Sederhana!
"Don't look at your form, however ugly or beautiful. Look at love and at the aim of your quest..." (Jalalud'din Rumi)
Kumpulan puisi-puisi Kurniawan Junaedhie (KJ) yang terhimpun dalam kumpulan puisi “Cinta Seekor Singa”, merupakan karya puisi yang bergumul dengan realitas dan estetikanya. Tentu hal ini adalah bagian dari seni ekspresi emosional seorang KJ dalam berkarya puisi. Demikianlah dengan permaknaan teologis, renungan, replika ruang, dan ragam metamorfosa pada alur berpikir; merupakan hasil dari rentang waktu yang dialektis dengan pemahamannya akan beberapa nilai kehidupan. Rentang waktu merupakan suatu peran untuk mengabstraksikan beberapa ilustrasi praktis dari puisi KJ.
Suatu ekspresi manusiawi KJ, ketika perasaan dan ketajaman emosional telah bekerja sedemikian praktis dalam pengelolaan kata dan kalimat yang tidaklah metafora. Unsur romantis ekspresif telah terjalin dalam kalimat “kukecup bekas ciumanmu/ semalam” (“Puisi Bulan September”, 1974). Tentu dalam puisi ini bukan mengundang suatu pembiasan makna dari setiap pembacanya, jika diperbandingkan dengan kalimat “tak mungkin kulupa/ terbagi kesadaranku” (“Tanah Lahir”, 1977); atau dengan puisi yang berjudul “Sajak Kelereng”. Kita akan kembali dipertanyakan tentang rentang perjalanan hidup KJ dan proses yang membentuk karakter dalam penulisan puisinya. Hal tersebut tidak hanya dapat disimplikasikan dengan beberapa catatan dan kesaksian dari orang-orang yang berada di sekitarnya, tetapi kita perlu untuk memahami penawaran dan realitas yang dibangun dalam puisi-puisinya tersebut. Demikianlah ketika dunia menggali realitas dari karya-karya puisi dan rentang masa kehidupan Al-Mutanabbi, seorang penyair klasik Arab di tahun 915-965.
Makna filosofis yang cukup kental akan relasi ruang, logika sentris, dan beberapa material yang mendukung timbulnya hasrat hingga rasa; terkandung dalam puisi-puisi KJ yang termaktub pada beberapa judul karyanya, antara lain: “Saat Edelweiss Diputar” (1977), “Tamat” (1979), “Jurang” (1982), “Ingin Berjumpa” (1982), “Antara Padang-Bukit Tinggi” (1983), “Waktu” (1985), “Di Perpustakaan“ (1986), “Sajak Untuk Orang Kecewa” (1993), “Sajak Untuk Orang Kasmaran” (1993), “Kau Pun Menghilang Di Balik Awan” (1994), dan “Sajak Untuk Ibunda Tercinta” (2008).
Inilah keindahan dari seni ekspresi emosional, ketika KJ tidak terjebak dalam suatu sentimen berlebihan di dalam puitika yang melukis gejolak rasanya. “Tidak./ aku tak boleh menangis/ Aku adalah pilar besi/ aku harus tetap berdiri/meski ada yang tiba-tiba hilang” (“Kau Pun Menghilang Di Balik Awan”, 1994); kalimat dalam baris puisi ini telah berkontribusi bagi suatu keeksotisan dari ungkapan rasa yang jujur. KJ sangat meminimalisir suatu ego yang bersifat semantik dalam pengungkapan realitasnya di balik kata-kata.
Mungkin cukup naif, jika analisis kita hanya memberi dimensi kepada karya-karya KJ dalam batas “gejolak rasa” atau tersaji hal-hal subyektif yang terdapat pada keindividualannya,seperti: cinta, penyesalan, penghormatan, kekecewaan, kerinduan,amarah,keloyalitasan, kecemburuan, dan unsur kenangan atau nostalgia tertentu; tanpa mengolaborasikan nilai-nilai yang tengah bergulir, hingga mendukung terjadinya penciptaan puisi tersebut. Salah satu nilai yang dipertaruhkan, agar puisi-puisi itu menjadi suatu kisah yang tidak menghilangkan sentuhan puisi adalah: keestetikaan.
Namun keestetikaan dalam kata akan menjadi sesuatu yang tidak bertanggung jawab, jika tidak mengalami pemilahan: ruang dan pencitraan tentang ruang tersebut dalam kata yang tepat dan mampu mewakili keberadaan ruang. Demikianlah halnya dengan suatu momentum, yang harus terwakili oleh pengondisian waktu. Puisi-puisi yang berjudul: “Di Bogor” (1979), “Ciawi” (1983), “Nyanyian Pagi” (1985), “Di Rimba Jakarta” (1992), “Aufwidersehe” (1994), “Dari Ujung Dunia” (1994), dan “Sketsa Di Rumah Wilson” (1996); adalah puisi yang merepresentasi pencitraan ruang dalam pengondisian waktu.
Ada sedikit perbedaan dengan puisi berikut: “Kesepian melindas hatiku di Amsterdam/ hari hampir malam/suasana dingin muram/ kudengar suara orang menggumam/ o, suara william” (“Sketsa di Rumah William”, 1996); suatu keestetikaan dari puisi yang ditempatkan di antara ruang, pengondisian waktu, dan akhiran kata yang serupa hingga menghasilkan ritme pelafalan yang cenderung stabil. Puisi tersebut adalah salah satu contoh karya puisi yang mensubordinasi keegoan penyairnya dalam mengelola kata-kata secara berlebihan (eufemisme), dan tidak membiaskan makna.
Tentang perbandingan antara keestetikaan dan keindahan dalam puisi-puisi yang dibangun oleh KJ, dapat kita analogikan dengan karya lukis retable oleh Van Eyek; bahwa ketika keindahan itu tidak hanya dapat terukur di beberapa nilai keestetikaan yang tersirat, namun dapat ditempatkan di ruang yang memahami kebenaran waktu dan masa mengenai makna dari keindahan itu. Artinya, ketika kesempurnaan dari suatu karya haruslah mampu mengekspresikan hal yang imajiner. Puisi “Pantun Hati Rindu” (2009), merupakan representasi yang cukup berani.
Kenapa puisi tersebut sedemikian berani? Puisi itu telah berdiri di antara pantun dan kuartrin, dalam perbendaharaan teoritisnya. Namun sangatlah tragis jika kita hanya terjebak di dalam suatu perdebatan teoritis, tanpa mewakili beberapa nilai fundamental tentang simbol-simbol dan bentuk kulturasi untuk melahirkan karyanya. Perbandingan dari keberanian yang cukup baik dari puisi “Pantun Hati Rindu” (2009), adalah puisi “Ketika Limbung” (2003). Sesuatu yang simbolis dan liris telah dihadirkan dalam momen dan fenomena varian rasa dari seorang KJ.
Modifikasi kata yang minim, namun menampilkan ide dasar secara terskenario dan terkonstruksi dengan proposisional adalah basis dari kekuatan kontemplasi pada puisi-puisi KJ, seperti: “Lagu Percintaan” (1985), “Umur” (1991), “Cinta Ibu” (1995), “Surat Untuk Seorang Teman” (1995), dan “Lagu Perkawinan” (1995); adalah beberapa percontohan puisi, ketika kontemplasi dan kelugasan filosofi saling berkesinambung dalam struktur tulisan yang menggunakan pola “konteks di antara teks”. Hampir sama halnya pada roman Tristan and Yseult, ketika rangkaian cerita berkontemplasi dari beberapa sentuhan yang filosofis.
Puisi yang berjudul: “Kenangan Untuk Si Dia” (2009), adalah demonstrasi kata yang cukup signifikan kepada penalaran subjek yang dipampangnya. Namun, apakah subjek yang dimaksud oleh penulisnya adalah entitas dari beberapa objek di dalam sisi perpuisiannya? KJ telah membangun unsur-unsur pemenuhan syarat “rangkaian kata menuju suatu tanya yang memaknai,” sehingga mampu mengasah nalar pembacanya. Dua baris kalimat: “dipalu gelisah/ ditikam gelisah”, tentu melahirkan multi intrepretasi yang berefek dari keseluruhan isi pada puisi Kenangan Untuk Si Dia.
Unsur relijiusitas dan hal-hal yang berkarakter abstrak dalam beberapa puisi KJ, termaktub kata-kata seperti: surga, firdaus, tuhan, akhirat, takdir, Allah; merupakan tahapan transendental yang dipercaya, dikenyam, atau dialami oleh penulisnya. Dan, KJ mengeksplorasi dunia konotasi yang imajiner, misalkan tertera kalimat: “1000 masalah dunia” (“Sajak Untuk Ibunda Tercinta”, 2008). Penempatan kata yang tepat di antara tuntutan untuk mengilustrasikan suatu objek yang dituju, adalah ketika kata-kata harus mampu menata adanya representasi dari realita.
Sensasi, sentuhan humor, dan kerumitan yang minim dalam pengelolaan setiap rangkai kata yang tersaji; telah mempertegas adanya suatu hubungan puisi dengan proses pencerdasan bagi setiap kalimatnya, atau ketika makna yang harus dilontarkan kepada para pembaca tanpa membiaskan nilainya. Dalam kaitan ini, KJ bukanlah mewakili karakter Julien Sorel yang bersifat terus terang dengan memaksa diri untuk menjadi ambisius dan enerjik. Tetapi KJ adalah seseorang yang telah berdiri di antara waktu, realisme, dan estetika; tanpa lebih cenderung kepada salah satu ciri tersebut.***