Kampusbook.com
Keranjang belanja
Keranjang Kosong
Sub total:Rp.0
 
Search Local Books
Kata kunci:
Advanced search
Mencari buku-buku impor?
 
Beli Voucher Online
 
Top Categories
 
News and Future Release    
Jadwal Operasional sehubungan dengan Libur Lebaran
01.09.2010
Sehubungan dengan adanya jadwal libur nasional dalam rangka Hari Raya Lebaran, maka kami umumkan sebegai berikut...
CUCI GUDANG..!!!
26.08.2010
Cuci-cuci....Bersih-bersih....!! Yuk Pilih buku mana saja yang kamu suka, dan dapatkan discount special UP TO 40%. Psstt...bisa buat teman ngabuburit juga loh dalam rangka menyambut Ramadhan kali ini.
WE LOVE INDONESIA
26.08.2010
Bekerjasama dengan Penerbit KOMPAS, mengedepankan buku-buku bertemakan nasionalisme. Mari kita gali lagi pengetahuan tentang INDONESIA!! Supaya kita lebih...CINTA INDONESIA. MERDEKA!
Gratis Ongkos Kirim
14.08.2010
Bebas Ongkos Kirim ke seluruh wilayah Indonesia. Tanpa syarat apapun.
Indeks berita
 
Latest Reviews    
Greg and Rowley : Zoo-Wee-Mama!

03.09.2010 15:54:49
“Kurasa kami membuat Lorong Jeritan menjadi terlalu  menakutkan karena di tengah-tengah permainan, Shane meringkuk seperti bola di kolong tempat tidur. Kami berusaha membuatnya merangkak...
Diary Bocah Tengil #3: Usaha Terakhir

27.08.2010 11:46:20
Aku bisa pastikan, semua orang yang membaca buku ini pasti akan merasa tersindir, senyum-senyum dan mesem-mesem sendiri, bahkan mungkin akan tertawa ngakak guling-guling sampai berlinang air mata....
Tangan Dewa - Leonowens SP

16.08.2010 11:36:06
Penulis: Roland Gunawan Sitompul, M.Sc. (penikmat sastra, bermukim di Amerika Serikat)   Sebagai seorang penikmat buku-buku sastra terbitan berbagai negara,saya sangat...
Lihat semua resensi
 
Customer Support
Helpdesk
 
Jadi fans Kampusbook.com di Facebook sekarang juga
Bisnis 2030, The Ultimate Business Opportunities Pay Global One, give you an easier way to pay through the world
 
Home » Catalog » Merah Yang Meremah

Merah Yang Meremah

[4865-09-29909]

Oleh: 10 penyair perempuan di FB
Merah Yang Meremah

 Rp.43.600

Beli
ISBN:9786028543286
Rilis:2009
Halaman:160
Penerbit:Bisnis2030
Bahasa:Indonesia
Penilaian Editor:
Penilaian Pembaca:belum dirating

Lihat resensi pembaca (0)  Tulis Resensi

Featured BookNew Book
Favorite Book

Related categories:Sastra & Puisi, Love & Relationship, Printing-On-Demand

Sinopsis


 

 

"Puisi-puisi yang menyentuh, imajinatif, sarat makna, dan cerdas; telah dihadirkan oleh para kaum perempuan yang memiliki selera nan khas di dalam buku ini."

Leonowens SP
Esais & Sastrawan

 

Sungguh mengejutkan membaca perkembangan puisi penyair wanita Indonesia yang ditampilkan lewat media cyber. Tampak dengan jelas betapa kebebasan yang disediakan oleh media cyber ini terutama FB betul-betul tidak tersia-siakan. Dan kemampuan penyair wanita Indonesia “menjinakkan” media cyber ini jelas berperan penting bagi perkembangan sastra Indonesia. Terima-kasih kepada Kurniawan Junaedhie dengan ide besarnya bagi sastra Indonesia.

Medy Loekito,

Penyair, mantan Direktur Yayasan Multimedia Sastra pengelola situs CybersastraNet

 

Apa yang menarik dari 'perempuan'? Semuanya !!! Baik yang nampak maupun yang tersembunyi darinya adalah 'sesuatu'. Menjadi perempuan tak berarti hanya menjadi sumber keindahan duniawi dan surgawi, namun sebuah kodrat yang menguntungkan. Maskulinitas dan feminitas yang dapat muncul bersamaan adalah sebuah kekuatan. Ia dapat menjadi sexy atau garang pada saat bersamaan, itulah keindahan! Prestasi kuno sebagai 'sumber inspirasi' tentu boleh dilebarkan. Hari ini perempuan dapat menjadikan dirinya sendiri sebagai sumber inspirasi. Ia boleh menjabarkan perasaan dan pikirannya dengan bebas dalam segala bentuk termasuk tulisan, tanpa perlu khawatir terhadap segala aturan baku yang memasung setiap orang untuk patuh pada agama sastra, toh tak ada surga dan neraka di dalamnya. Sebab sastra itu sejatinya ada di dalam jiwa setiap diri, dan bersifat maya.
Trie 'iie' Utami,

Penyair, penyanyi & pencipta lagu

                        

Cukup wajar bila FB menjelma menjadi media baru yang cukup ekspresif untuk mencurahkan berbagai ungkapan perasaan, termasuk puisi yang sebelumnya menjadi wilayah angker bagi orang awam seperti kata Chairil Anwar: “Yang bukan penyair tidak ambil bagian”. Bukankah penyair itu bukan darah turunan dan siapa saja boleh menulis puisi?

Heru Emka,

Penyair, peminat kajian budaya

 

 

 

 


 


 
Edit Beli
Resensi Editorial
Menguak Jiwa Penyair Perempuan di Dunia Maya

Menguak Jiwa Penyair Perempuan  di Dunia Maya

Oleh: Kurniawan Junaedhie

Kriteria apa yang dipakai untuk memuat puisi para penyair yang ada di Facebook ke dalam buku ini? Tidak ada. Malah bisa saya katakan, puisi-puisi ini saya temukan secara at random di Facebook yang saya ikuti sejak Februari 2009 hingga buku ini ditulis. Ukurannya jelas sangat subyektif. Termasuk ketika saya harus memilih hampir 100 (dari mungkin seribuan) puisi ini, pilihan saya lebih berdasarkan subyektivitas yang Anda boleh tidak setuju. Juga ketika harus memilih ‘hanya’ 10 penyair di Facebook ini. Alasannya –mohon maaf—hanya karena saya tidak bisa menemukan yang lainnya itu, meski saya yakin sekali, di luar sana, masih banyak penyair perempuan yang sama-sama berbakatnya. Jika Chairil Anwar mengatakan, ‘yang bukan penyair tidak boleh ambil bagian’ dijadikan acuan, maka saya kira, kita pun boleh saja berpendapat: ‘yang bukan penyair juga boleh ambil bagian’. Hemat saya, biarlah mereka’ yang bukan penyair’ ini ambil bagian, agar taman kesusatraan Indonesia lebih colorfull. Tapi benarkah mereka bukan penyair? Bagi mereka sendiri, sebutan penyair atau bukan penyair, tampaknya bukan perkara yang penting benar. Bahkan sedikit pun saya tidak melihat niat mereka untuk membuat angkatan tersendiri, boro-boro menyerang Sastra Koran . Penilaian saya sendiri praktis-praktis saja: pertama, sebutan penyair adalah sebutan yang pas untuk mereka yang menulis syair, dan kedua, ke-10 teman ini sudah jelas-jelas menulis puisi, bukan cerpen atau wartaberita.

Kenapa ada embel-embel Facebook? Ini penting. Di mata saya, Facebook tak sekadar varian dari situs-situs web atau situs-situs blog yang biasa disebut situs generasi Web 2.0,  tapi juga memiliki plus-minus tersendiri sebagai medium bagi para penyair dibanding medium yang digunakan para pendahulunya yang masih menggunakan situs blog seperti blogger, atau wordpress. Misalnya, bila pemilik situs blog masih harus mempromosikan blognya agar dikunjungi orang, maka pemilik Facebook tidak perlu lagi melakukan apa-apa karena Facebook memiliki fitur canggih yang memungkinkan semua hal ditautkan secara otomatis sehingga kita sebagai penyair (users) bisa secara otomatis menjadi penerbit (publishers). Dan dalam waktu yang bersamaan pula, kita pun bisa membangun komunitas pembaca (readers) sendiri termasuk bagaimana mengajak pembaca agar mau membaca karya kita. Serba instan itulah sifat utama Facebook.

Dengan sifatnya yang serba cepat (instant) tadi, tak dapat dipungkiri bahwa sebagai media demokratis,

Facebook memang melahirkan puisi-puisi instan, dan penyair-penyair instan. Dan yang disayangkan pula, Facebook juga ternyata hanya mengundang opini, tanggapan atau komentar pembaca yang juga instan, yaitu bersifat artificial, dan tidak in depth (mendalam). Padahal menurut saya, mestinya penyair juga berhak mendapat keuntungan dari feedback yang konstruktif, meskipun kritik itu terkadang kejam. Tanpa memperoleh feedback berarti, bagaimana para penyair bisa mengevaluasi diri untuk meningkatkan kualitas puisinya di kemudian hari? 

Namun tunggu dulu, di sisi lain, situasi-situasi seperti ini rupanya membawa ‘berkah’ tersendiri bagi penyairnya: Karena dengan begitu penyair bisa dengan leluasa menghasilkan karya-karya dengan sebebas-bebasnya tanpa rendah diri. Dengan bahasa keren, puisi-puisi mereka bebas dari kontaminasi kebijakan editorial dan bebas dari kontaminasi kegenitan trend atau gaya yang dibuat para redaktur media mainstream. Hanya masalahnya, seperti yang dicemaskan oleh Penyair Ahmadun Yosi Herfanda : “Menulis puisi tanpa orientasi kesusastraan -- tanpa pretensi untuk menjadi penyair atau mencapai prestasi estetik yang tinggi -- tentu akan lebih banyak melahirkan sajak-sajak yang bersahaja, ala kadarnya, yang 'pokoknya puisi' -- yang kadang-kadang gagap dalam pengucapan.” Tentu, para penyair dalam buku ini harus menjawabnya sendiri.

 

Mereka juga harus menjawab: apakah dengan kemudahan-kemudahan itu, maka mereka lalu memiliki deferensiasi tersendiri? Ataukah, jangan-jangan, seperti yang juga dicemaskan oleh penyair Ahmadun tadi, mereka sekadar, “mengaktualisasikan diri melalui sajak di ruang atau media yang sering mereka idolakan sebagai 'ruang sastra yang paling demokratis'?

Sekarang marilah kita mencoba mengintip apa-apa saja yang mereka tuliskan.

 

Tematik

Kekayaan tematik memang hal yang paling memikat dalam buku ini. Ini sekaligus membuktikan bahwa para penyair perempuan yang kebetulan umumnya ibu rumahtangga ini memiliki kepedulian (concern) dan cakupan wawasan luas tentang berbagai hal baik di dalam maupun di luar dirinya. Bisa dibilang segala hal telah mengusik pikirannya, sehingga seakan layak disentuh dan ditulis: Mulai dari masalah yang bisa dibilang tetek-bengek seperti ditinggal pasangan, masalah-masalah pribadi di balik kamar mandi dan kamar tidur sampai keprihatinan tentang Indonesia. Tapi tentu saja, cinta, kepedihan, dukalara, perpisahan, kenangan dan sejenisnya tetap menjadi tema-tema yang menarik bagi para penyair perempuan ini sejauh hal-hal itu menggoda pikiran dan perasaannya untuk dituangkan sebagai sebuah puisi.

Kalau kita membaca lebih jauh, maka ‘gerutuan’ Seno Gumira Adjidarma  ketika mengantar sebuah buku puisi perempuan mungkin bisa kita pinjam, “memang ternyata sampai di dalam puisi pun tiada habis masalah “tetek bengek” perempuan, tetap meninggalkan jejaknya.”

Sungguh menakjubkan, melihat bagaimana, misalnya, di kamar mandi pun, Faradina Izdhihary  bisa menulis puisi tentang mandi yang tentu saja sesudah diberi pemaknaan sendiri.

Baca puisinya, DI KAMAR MANDI PEREMPUAN ITU MENEMU SORGANYA:

selepas seharian meneteskan keringat pada baju ketatnya

perempuan itu hendak meluruhkan dakinya

 

kamar mandi menjadi pilihan

 

tempat paling setia mencatat keluhannya

 

membuang semua borok dan lelahnya

 

pernah ia, menuliskan kata-kata terjorok pada dindingnya

 

perempuan itu melepas bajunya pelan-pelan takut merontokkan tulang-tulangnya yang ngilu

 

seraup air pada tangannya, ia basuh mukanya

 

bersyukur ia diam-diam, menikmati lembutnya

 

“hm... kasar kumis lelakiku masih membekas di sini,” bisiknya

 

sambil membelai tulang pipinya

 

ia ambil air untuk berkumur

 

berlama-lama ia elus bibir lembutnya

 

"ah.... setengah saja ranum bibirku hendak menyapa dia", desahnya

 

lelaki yang mengulum sepenuh hati

 

membungkam ceritanya tentang kerja dan atasan yang menyebalkan

 

tentang teman kantor yang suka menggoda

 

tentang teman kantor yang suka umbar cerita

 

ah... perempuan itu tersenyum dengan bibir setengah terbuka

 

lalu lehernya ia gosok pelan-pelan

 

di sini, di sini lelakiku sering menggantungkan harapnya

 

meletakkan lelah yang berjuta-juta

 

di sini pula tuhan menggantungkan cinta seluas lautan

 

tempat mengaitkan selendang untuk anak-anaknya

 

dada perempuan itu bergetar hebat ketika tangannya menangkup susunya

 

di sana tuhan memberikan air kehidupan pada anak-anaknya

 

tempat terhangat anak-anak untuk bermanja

 

tempat terindah bagi lelakinya mengadu

 

seperti dadanya lah cintanya

 

bergelombang, hangat, dan mendebarkan

 

ia susuri perutnya yang membekas jahitan

 

di sana dulu lelakinya menitipkan benihnya

 

sembilan bulan bayinya berlindung di sana

 

tempat terdamai yang tak ada bandingnya

 

ia menyusurkan tangan ke bawahnya

 

gemetar tangannya

 

ia temukan di sana

 

simbol bahwa ia sungguh wanita

 

di sana lelakinya memuja

 

anak-anaknya lahir ke dunia

 

jalan kehidupan yang hanya tuhan yang mencipta

 

perempuan itu melenguh ingat lelakinya

 

kakinya gemetaran,

 

dia sabuni telapak kakinya

 

agak berkapal karena terlalu jauh melangkah

 

dengan sepatu berhak tinggi yang murah

 

ia tersenyum bahagia,

 

ingat di sana tuhan meletakkan surga

 

keluar kamar mandi perempuan itu menangkup tubuhnya dengan selembar handuk

 

membuka jendela dan berkata lirih,

 

"dedaun.... jangan berisik, sini aku bisikkan rahasia besar padamu:

 

Sesungguhnya aku bersyukur dan bahagia jadi perempuan

 

sebab setiap inchi tubuhku adalah syurga

 

bahkan di telapak kakiku yang paling hina

 

tuhan meletakkan syurganya!"

 

Sepadan dengan puisi Faradina Izdhihary  di atas, kita bisa simak puisi AGAMA PEREMPUAN karya Helga Worotitjan berikut:

 

perempuan setengah baya telanjang mengamati perutnya di cermin

 

ada gurat-gurat bekas hamil besar di perutnya

 

ada lemak-lemak mengelompok di sana

 

ada pusar yang tak lagi berada di tempatnya

 

dan stiker tubuh elok perempuan muda di sudut kiri atas cermin

 

tempatnya berkaca kini

 

juga tempat suami dan anak sulungnya masturbasi

 

mereka pernah berurusan dengan perutnya

 

yang satu menari di atas perutnya

 

yang satu menggeliat di dalam perutnya

 

tak begitu penting lagi

 

kepentingannya telah dibeli selembar surat kawin

 

Hal yang sama juga dialami Susy Ayu bahkan peristiwa bercinta pun bisa menjadi ‘ilham’ bagi lahirnya sebuah puisi berjudul USAI BERCINTA.

 

ketika kita usai

 

kekosongan di telapak tanganku masih terasa penuh

 

serupa dirimu

 

pada rambutmu yang sempat kujambak

 

pada dadamu yang kusinggahi

 

pada tamanmu yang buas namun indah

 

sebelum kedua tangan ini bersembunyi di punggung lehermu

 

aku sempat cemas

 

kupikir cintaku semata pada geletar matamu

 

sinar yang mendambai penyerahan

 

namun lewat rasa hangat yang terpapar telanjang

 

kau antar aku mencapai keyakinan cintai seluruhmu

 

ketika kita usai

 

kekosongan di seluruh tubuhku masih terasa penuh

 

serupa tubuhmu

 

aku cinta padamu

 

Ini menjelaskan betapa para penyair itu, memang memiliki “kepekaan puitik”  yang ‘tinggi’ tentang keindahan yang mendorong lahirnya sebuah puisi.  Keindahan (beauty) adalah misteri yang mempesona manusia karena ia merupakan pengalaman yang bersifat timelessness dan berderajat lebih tinggi dari kemanusiaan itu sendiri.

 

Tapi seperti kata Seno, bagaimana kita bisa menyebut hal-hal itu sebagai tetek bengek itu jika hal itu memang menjadi bagian penting dalam kehidupan perempuan? Maka menyebut mana yang tetek bengek dan mana yang tidak bengek pada akhirnya memang hanya mengada-ada. Bukankah kehidupan itu sendiri sebuah puisi, dan penyair membuat puisi agar kehidupan itu bermakna?

 

Simak saja puisi karya Dewi Maharani MAAF JIKA TERNYATA DIA SUAMIMU yang menurut saya cukup serius justru karena ‘mbeling’ –nya ini. Bagaimana tidak, setelah kita terhanyut cerita yang ‘meyakinkan’ itu, tiba-tiba kita dihenyakkan oleh kenyataan bahwa, pasangannya ternyata adalah “suamimu”.

 

dia menyapaku dengan senyum

 

ah, bukan hanya senyuman

 

ada kerlingan dari hatinya

 

mencoba mengetuk kebekuan

 

gerbang bergembok karatan

 

dengan syairsyair kearifan ...

 

dia tawarkan bahu bahkan dadanya

 

untuk membaringkan hati lelahku

 

yang terlena oleh detak waktu

 

saat jantungnya bekerja meluluhkan batu

 

berjuntai mutiara rindu adalah menu utamaku

 

seikat mawar berdaun surga kuterima darinya setiap waktu

 

menikmati malam dengan guyuran cintanya tak perlu kutunggu

 

aku terjatuh, mengaduh pada tatapan matanya yang teduh!

 

ma'af, jika ternyata dia suamimu

 

karena baru semalam seekor gagak hitam memberi khabar itu padaku ...

 

Memang, ada beberapa karya mereka dalam buku ini, yang mengingatkan saya pada puisi mbeling, majalah Aktuil, awal tahun 1970-an karena terkesan main-main. Tapi kesan main-main itu bukan pada bentuk, melainkan lebih pada makna. Coba saja simak bagaimana Pratiwi Setyaningrum, seperti kaum pria pada umumnya yang suka usilan, dengan seenaknya menyebut kekasihnya yang doyan makan, sebagai sangat nggragas (rakus, jawa): KEKASIHKU SANGAT DOYAN MAKAN

 

Kemarin kuserahkan mataku,

 

dimakan

 

Malamnya kutawarkan lidahku,

 

dicomot.

 

Digigit-gigiti sampai prithil

 

Tadi pagi kutengok, hatiku krowak,

 

ada bekas giginya

 

Ah...

 

Kekasihku ternyata nggragas

 

Bisa-bisa aku tak bersisa

 

Sense of humor memang tak memandang gender. Bahkan sajak Tina K, DOA SEBELUM TIDUR dan berbentuk puisi pendek ini masih terasa ngocol.

 

Tuhan, terimakasih, karena

 

telah Kau tambal hatiku yang bolong hari ini

 

gara-gara kucintai laki-laki yang namanya adalah

 

litani yang kudaraskan mulai terbit matahari hingga tenggelam

 

bulan.

 

tapi Tuhan, besok,

 

hatiku pasti

 

bolong

 

lagi.

 

Puisi karya Shinta Miranda: AMSTERDAM - ROMA ini juga bisa dikategorikan mbeling, karena sifat anekdotnya:

 

Aku sedang menunggu

 

di stasiun kereta api

 

amsterdam

 

sendiri

 

menuju

 

roma

 

seorang lelaki

 

menghampiriku

 

dia pikir

 

aku seorang pramugari

 

tas bawaanku berlogo

 

penerbangan singapur

 

lalu aku bilang, bukan

 

aku dari indonesia

 

dia bilang ahmad sukarno

 

aku melotot..ketinggalan jaman

 

suharto saja sudah mati

 

lalu aku tertawa, sambil bergumam

 

bambang susilo

 

oh,...presiden lain

 

kereta jurusan roma tiba

 

segera kubangkit

 

masuk dalam kereta

 

mencari tempat

 

masuk ke kabin

 

nyaman dan wangi

 

bisa tidur semalam sampai tiba

 

lelaki itu masuk

 

dalam kabinku

 

ahmad dari irak

 

duduk di sofaku

 

bagaimana mau tidur

 

ada lelaki di kabinku

 

keluar kabin celingak celinguk

 

minta petugas periksa karcis

 

ahmad harus pindah

 

tiketnya kabin lain

 

ahmad sukarno-ahmad dineja

 

kita saudara-mari bersama

 

keluar kabin-celingak-celinguk

 

cari kabin kosong, buka-tutup

 

bertemu lelaki malaysia

 

di kabinnya ku tidur semalam

 

Sampai di sini mungkin pertanyaannya bisa dibalik: jadi siapa bilang penyair perempuan tidak bisa mbeling? Harap diingat, pengertian mbeling di sini mengandung unsur kecerdasan serta tanggung jawab pribadi.

 

Betapa pun, sebuah puisi diciptakan didasarkan atas ‘ilham’ (bagi yang meyakininya) dan yang pasti merupakan sintese dari beragam peristiwa yang dituangkan dengan penggunaan media.  Melalui sajak AKU BUKAN PELACURMU Weni Suryandari mencoba melakukan permenungan tentang tubuh keperem-puanannya.

 

Berapa harga cintaku kau beli

 

Yang kerap bermain di mulut mulut gua

 

dan batang-batang pohon

 

Bersenda gurau dengan alam yang polos

 

Tapi hanya kau tawar saat musim dingin menusukmu

 

padahal kusembunyikan rintihku

 

di balik deras hujan yang sibuk

 

Tubuh surga ini bukan pelarian

 

Dari gigil lapar dan haus asmara

 

Meletup di balik pakaianmu, di balik kerudungku,

 

Di antara tembok-tembok kaca tak berbunyi

 

Di sekitar kita yang tak pernah berkata

 

Kita bukanlah sepasang kelamin

 

Yang melukis fatamorgana

 

Aku baluri cinta pada tubuhku

 

Bukan liur anjing penuh birahi

 

Aku bukan pelacurmu

 

Puisi Nona Muchtar PRASANGKA berikut juga layak diapresiasi. Ia mengatakan bahwa rindu pun bisa dipadamkan dengan puisi:

 

Seharusnya kita bercinta saja sampai lupa waktu

 

Agar tidak saling mengirim prasangka

 

Seperti tanah dan air ketika musim hujan

 

Menggenangi akar hingga berbunga rindu

 

Meski langit dan laut sering bercumbu

 

Hingga bumi menggerutu marah

 

Tapi kita tidak harus selalu begitu

 

Padamkan saja rindu dengan puisi

 

Bahwa para penyair dalam buku ini tak hanya senang mengunyah-ngunyah masalah keseharian bisa dibuktikan juga lewat puisi Kwek Li Na SECANGKIR KOPI HARAPAN ini, meski tetap menggunakan frasa yang ‘berani’:

 

Cangkir, siap kita isi

 

Air pun telah mendidih

 

Hari ini aku, atau kaukah yang menjadi gula ?

 

Yang lain pasti akan menjadi bubuk kopi

 

Tak ada yang lebih istimewa

 

Atau pun tak ada yang tak berguna

 

Semua bahan mesti ada dan sesuai takaran

 

Tak boleh kurang atau pun berlebihan

 

Secangkir kopi harapan

 

Tercipta karena kebersamaan

 

Siap membasahi kerongkongan kering kita, yang tengah berada di padang pasir kehidupan

 

Warnanya pekat, siap disruput

 

Khasiatnya tak kalah dari raja obat

 

Hilangkan ngatuk seketika

 

Menurunkan lemak kepenatan

 

Mengurangi ejakulasi dini menulis dan membaca

 

Menumbuhkan rasa percaya diri manusia dalam berkarya

 

Berkelana dalam dunia maya, sambil ngopi

 

Seraya berada di pucuk mimpi

 

Lupakan sejenak hal-hal yang mengusik hati

 

O' dunia... izinkan aku malam ini

 

Memeluk dan bercinta dengan kekasih imajiku, sampai pagi

 

Sampai di sini kita bisa melihat, betapa puisi telah memberikan ruang ekspresi yang begitu luas tak bertepi bagi kaum perempuan penyair dalam buku ini, untuk mengeksplorasi dirinya tanpa risih dan tanpa kuatir menjadi vulgar justru sebaliknya ada upaya-upaya untuk mencuatkan kesadaran baru tentang keindahan (sublimasi) yang merupakan hasil peleburan realitas, imaginasi dan fantasi. Dengan demikian, menurut saya, pilihan mereka untuk menulis dalam bentuk puisi dan bukan dalam bentuk menulis prosa, merupakan pilihan cerdas, dan bukan by accident. Ini diakui sendiri oleh Dewi Maharani dalam blognya yakni, puisi adalah ‘untuk meliarkan imajinasi untuk lebih berarti.’

 

Maka dalam perlindungan bentuk puisi itu, kita tak perlu gundah bila menemukan kata-kata seperti ‘persetubuhan’, ‘susu’, ‘payudara’, ‘pelacur’, ‘kutang’, ‘masturbasi,’ ‘onani’,‘senggama’, ‘persetubuhan’ dan lain sebagainya dalam puisi-puisi mereka. Jangan risau pula bila kita juga bisa menemukan  penggunaan kias atau metaphora, frasa-frasa, padu-padan kata maupun bahasa ungkap yang mereka gunakan yang ‘terasa baru’ sekaligus mengejutkan. Misalnya, sepasang kelamin, kebencianmu seperti seribu panah menusuk mataku, di kecipak air susuku, mengurangi ejakulasi dini menulis dan membaca, ketika payudara sudah tak berkutang, di antara dua kakimu aku bersembunyi, sebelum sejarah mengancingkan celana, cinta lantas mengerut serupa desakan renjana, logika terlempar di sumur tua dll. Ini mengingatkan saya pada kata-kata Remy Silado: bahasa puisi dapat saja diambil dari ungkapan sehari-hari, bahkan yang dianggap jorok sekalipun. Yang penting adalah puisi yang tercipta dapat menggugah kesadaran masyarakat atau tidak, berfaedah bagi masyarakat atau tidak.

 

Bagi saya sendiri, ibarat sebuah kamera, buku ini sejak awal memang ‘hanya’ bermaksud mengabadikan karya-karya ke-10 penyair yang biasa menulis di Facebook secara moment opname belaka. Maksudnya, agar karya mereka yang selama ini hanya bisa kita baca dalam sebuah pergerakan tanpa jeda dalam situs jejaring sosial yang canggih itu, bisa tampak lebih tampak jelas. Syukur-syukur bagi penyairnya sendiri, buku ini bisa dijadikan ajang berkaca diri tentang kualitas karyanya dibanding rekan-rekan seangkatannya.

 

Maka jika buku puisi ini diibaratkan sebuah rimba, dan kita, para pembaca adalah para pemburu, --mengutip pendapat penyair Wayan Sunarta, mudah-mudahan setelah membaca buku ini, kita mendapatkan buruan di dalamnya. Bagaimana kalau tidak? Percayalah, puisi-puisi akan terus dituliskan dengan penuh kegembiraan dan kegairahan, mungkin seperti puisi Weni Suryandari melalui puisi pendeknya PUISI CINTA yang liriknya sangat kuat, yang mengatakan:

 

Jika yang kutulis adalah puisi cinta,

 

aku tak kan kehabisan tinta

 

Betapa pun, puisi-puisi karya 10 penyair perempuan yang ditayangkan melalui Facebook ini, telah berhasil memberi makna pada kehidupan mereka sendiri dan mudah-mudahan juga kita. Dari sinilah apresiasi saya diberikan.

 

Terimakasih juga untuk Eviwidi, dan pihak penerbit, yang kebetulan memiliki apresiasi yang sama sehingga dengan senang hati berkenan menerbitkannya; serta  para endorser: Medy Loekito, Heru Emka, Leonowens SP dan Trie “Iie” Utami, yang membuat buku ini jadi lebih bernilai. Kepada para penyair, I love you full, senang bekerjasama dengan Anda semua!

 

Selamat membaca.

 

Serpong, 4 November 2009

 

 

 


How to Shop  Order and Return Policy  Privacy Policy  Publisher CLICK HERE    Writer CLICK HERE   Contact Us© 2008, KampusBook.com or its affiliates.
All Rights Reserved.