Halaman Utama » Kategori » Ziarah
Hall of Fame

[promotion]

Kategori

Resensi  
Kafe Etos karya Jansen Sinamo

20 Feb 2017 - Baskara Aji
Kafe Etos 8 x 8 Kisah Inspirasional untuk Membangun 8 Etos Kerja Profesional   Oleh : Jansen Sinamo ISBN : 9789799680426 Rilis : 2011 Halaman : 276...
Review Love in Adelaide

10 Mar 2016 - Evi Widiarti
Siapa yang bisa mengelak dari jodoh yang sudah ditetapkan Tuhan? (hlm. 51) Ayah kandung Aleska meninggal sepuluh tahun yang lalu, Aleska menjadi sangat dekat dengan ibunya. Bu Marinata...


Ziarah
Rp.49.000 Rp.44.100
Silahkan Login untuk memberi rating
Rating: 0/5 dari 0 pembaca
Resensi: 0 Resensi
ISBN 9786023853342
Rilis 2017
Halaman 224
Berat 0.1 kg
Penulis
Penerbit Mizan
Bahasa Indonesia
Kategori Terkait : Novel , Novel Dewasa
 
“Esok akan menjadi kini. Kini yang menjadi kemarin tak dihiraukan, karena segala yang lampau hanya gumpalan hitam.”   Tokoh Kita merasa sangat kehilangan. Kematian istrinya membuat dunianya kacau. Dia begitu rindu, sampai-sampai dia terus berjalan dan pada setiap tikungan dia berharap akan berjumpa dengan istrinya. Dia pun memutuskan: dia harus ziarah ke makam istrinya! Sepanjang perjalanan menuju ke sana, Tokoh Kita mengambi; berbagai keputusan ajaib. Mula-mula dia bekerja menjadi pengapur dinding kuburan, mendobrak aturan hingga seisi kota geger.   Ziarah merupakan salah satu novel monumental yang membuka cara baru dalam penulisan sastra. Absurditas yang dihadirkan Iwan Simatupang seperti mata lain untuk menelisik psikologis manusia. Patutlah bila novel ini memenangi Roman ASEAN terbaik tahun 1977. Novel yang ajaib sekaligus layak untuk terus diperbincangkan.     TENTANG PENULIS   Dilahirkan di Sibolga 18 Januari 1928, meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Nama lengkapnya Iwan Martua Lokot Dongan Simatupang. Mendapat pendidikan HBS di Medan, sekolah dokter di Surabaya (tidak selesai), lalu belajar antropologi dan filsafat di Rijk universiteit Leiden, dan Paris. Dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Sebagai penulis ia sudah memulainya pada tahun 1952 di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia. Terkenal karena 2 novelnya Merahnya Merah (1968) dan Ziarah (1970). Ia juga menulis drama, antara lain Cactus dan Kemerdekaan dan Petang di Taman. Dua novelnya yang lain Kering (1972) dan koooong (1975), terbit setelah ia meninggal. Merahnya merah mendapat hadiah nasional 1970, dan Ziarah dalam terjemahan bahasa Inggris mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977. (Bahan: Ensiklopedi Indonesia)   KEUNGGULAN BUKU Novel Ziarah menjadi pembuka genre Iwan Simatupang. Ditulis pertama kali namun terbit setelah Merahnya Merah Ziarah  mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977 Iwan Simatupang memiliki genre realisme-gaib, yang oleh beberapa kritikus disandingkan dengan Putu Wijaya. Novel Ziarah telah menjadi karya klasik dan menjadi bahan ulasan dalam dan luar negeri. Novel ini juga telah menjadi buku langka yang diburu para kolektor buku dan pecinta buku sastra Ziarah terbit pertama kali di Penerbit Djambatan 1969, yang kemudian dicetak ulang oleh penerbit yang sama pada tahun 2007. Iwan Simatupang (1928-1970) mendapat hadiah sastra Nasional 1970, hadiah roman ASEAN terbaik 1977, hadiah Yayasan Buku Utama Department P Dan K 1975, juga hadiah kedua dari majalah Sastra untuk esainya "Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air". Gaya bercerita Iwan Simatupang memang rada-rada aneh dan ajaib. Tetapi absurditas ini membuat banyak pembaca dan kritikus geregetan. Salah satunya adalah Boen S Oemarjati, yang menulis ulasan cukup panjang atas cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu di Majalah Sastra, yang pada dasarnya Boen keberatan atas jalan nalar cerpen itu. Kontroversial namun tetap menjadi penghadir kebaruan sastra.   ENDORSMENT “Tentang Ziarah saudara, saya merasa kagum dan menganggapnya perlu menerbitkannya segera. Karena akan membuka halaman baru pula dalam kesusastraan Indonesia seperti halnya tempo hari dengan puisi Chairil Anwar.” H.B Jassin dalam suratnya kepada Iwan Simatupang.   “Suatu novel yang sangat interesan dengan tema yang pada dasarnya sangat sederhana, tetapi memerlukan pengetahuan psikologis dan intelek untuk dalam menangkapnya. Novel ini dapat dinamakan parodi dan satire.” Gayus Siagian, kritikus sastra.   “Ziarah dapat melambungkan imaji-imaji pembaca serta menapak jejak perjalanan sastra Indonesia.” Violetta Simatupang, putri bungsu Iwan Simatupang.