Resensi Buku ::: To Bee or Not To Bee Judul : To Bee or Not To Bee, Lebah yang Bosan Mencari Madu Penulis : John Penberthy Tebal : 154 halaman Cetakan : 2009 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Harga : Rp 40.000 Buku “To Bee or Not To Bee” adalah sebuah kisah perjalanan Buzz yang mulai jengah melihat kegiatan monoton para lebah dalam koloninya. Ia sudah mendengar ribuan kali Sang Ratu Lebah berkata : “Para, pekerja, kita hanya punya sebuah padang rumput kecil untuk menyokong kita, jadi marilah kita bekerja ekstra keras hari ini dan isi penuh sarang madunya.” Tapi begitu kemudian satu sarang madu terisi penuh, koloninya akan mulai mengisi yang lainnya. Hal itu tidak ada akhirnya dan Buzz mulai bosan dengan rutinitasnya dalam mencari madu. Buku Kuning yang terdiri dari 10 bab ini menceritakan tentang pencarian Buzz akan Tuhan. Buzz mempertanyakan arti kehidupan yang ia jalani dan eksistensi serta pengaruh Tuhan terhadap dirinya. Di tengah pencariannya, Buzz bertemu dengan Bert, si lebah tua yang bijak dengan satu antena bengkok di kepalanya. Bersama Bert inilah Buzz memulai petualangan gagasan dan pikiran akan kehidupan di dalam koloninya. Bert menantang Buzz dengan beberapa pelajaran penting dalam hidup. Buzz ditarik melewatinya, terseret-seret dan meronta-ronta, dan seringkali Buzz merasa belum siap untuk melaluinya. Walau tidak secara gamblang diceritakan dalam kisahnya, namun Bert lah yang sejatinya menuntun Buzz menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan spiritualnya tentang kehidupan. Namun Buzz tidak selamanya bisa menerima kalimat-kalimat Bert. Sikap Bert yang tenang saat menghadapi ketidaksempurnaan dalam koloninya justru membuat Buzz kembali jengah. Belum lagi cara-cara Bert yang sulit dipahami oleh Buzz saat berbicara tentang kehidupan. “Tahan napasku?” Buzz mengulangi, tidak melihat hubungannya dengan percakapan itu. “Benar, tahan saja napasmu.” “Oke,” kata Buzz skeptis, selagi ia menarik napas dalam-dalam. Ia memandang Bert sekilas, menunggu instruksi selanjutnya, tapi Bert berpaling dan mulai bersenandung pelan. Buzz dengan patuh terus menahan napas, bertanya-tanya tentang apa semua ini. Setelah semenit wajahnya mulai berubah merah, sementara Bert terus saja bersenandung. Sepeninggal Bert, Buzz mengetahui bahwa pada tingkat tertentu semuanya akan terungkap sebagaimana mestinya. Akhirnya, hampir tanpa memedulikan diri sendiri, Buzz menemukan penerimaan diri yang baru dan penghargaan terhadap kekacauan hidup dalam koloni lebah madunya. Lewat petualangan gagasan dan pikiran itulah Buzz akhirnya mendapati dirinya semakin berkembang dan semakin dalam. John Penberthy membawa kita larut dalam kisah petualangan Buzz yang sebenarnya mewakili kisah kehidupan kita sehari-hari yang selalu penuh dengan tuntutan. Penberthy mampu menerjemahkan dengan jenius keinginan seorang individu manusia ke dalam kehidupan seekor lebah dan koloninya. Ia menceritakan bahwa terkadang Buzz memiliki keinginan untuk melewati hari-hari tanpa harus terburu-buru, menikmati keindahan lembah yang sangat indah dan merasa serba berkecukupan. Tapi tidak ada yang Buzz dapat lakukan setiap harinya kecuali bekerja dan bekerja; membangun sarang, memberi makan larva, mencari makan, menyimpan madu dan serbuk sari, dan mempertahankan koloni dari serangan Boris yang selalu terobsesi dengan madu milik koloninya. Penberthy benar-benar mampu membuat kita merasa tidak ada bedanya dengan kehidupan lebah ketika larut membaca kisah Buzz dalam buku ini. Kelebihan buku ini terdapat pada kata-kata bijak dan ilustrasi gambar yang tidak dimiliki semua buku. Gaya bertutur Penberthy yang sederhana, bumbu humor-humor cerdas, dan beberapa aforisme (pernyataan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum) yang provokatif, membuat buku ini memiliki isi yang mendalam dan menyentuh. Tidak mengherankan jika buku “To Bee or Not To Bee” telah diterjemahkan dalam 11 bahasa. Ilustrasi gambar karya Laurie Barrows yang didominasi warna kuning menambah “kekayaan” di dalam buku ini. Gambar-gambar di dalamnya mempertajam daya imajinasi para pembaca akan kisah petualangan Buzz bersama Bert, Boris, dan koloninya. Bagi pembaca yang mengharapkan akhir kisah yang religius, mungkin akan kecewa dengan akhir kisah petualangan Buzz yang sederhana dan mudah ditebak. Namun sebagaimana ditulis di sampul belakang buku ini, apa pun keyakinan spiritual pembaca, kisah Buzz Bee akan menghadirkan senyuman di wajah mereka dan cahaya dalam hati mereka. Walau buku “To Bee or Not To Bee” mengisahkan petualangan Buzz dalam mencari Tuhan, namun buku Penberthy ini bukanlah buku religi. Pada intinya, buku ini hadir untuk mengajak kita memandang kehidupan secara lebih bijak dan mengajarkan bahwa kehidupan terlalu penting untuk ditanggapi terlalu serius. Hidup yang kita jalani tergantung dari cara berpikir kita tentang kehidupan. Kekuatan pikiran terletak dalam memahami perbedaan dan kekuatan hati terletak dalam memahami kemiripan. Banyak kalimat-kalimat bijak dan filosofis yang dapat kita temukan saat membaca buku kuning ini. Seperti kalimat saat Buzz kebingungan untuk menentukan sikap dalam koloninya yang tetap bersikukuh dengan rutinitas seekor lebah. “Satu hal lagi – jangan terlalu khawatir akan apa yang mereka pikirkan tentang dirimu,” saran Bert. “Mereka punya prioritas yang berbeda, dan kalau kau menghabiskan kehidupanmu berusaha menyenangkan mereka, kau akan menderita. Lakukanlah bagianmu dan biarkan kehidupanmu, bukan kata-katamu, yang memengaruhi mereka. Kehidupan ini adalah sebuah perjalanan dari aku menjadi kita.” Atau seperti kalimat-kalimat Bert yang lain, seperti “Kesempurnaan bukanlah suatu keadaan, melainkan cara berpikir”, “Pikiran adalah pelayan yang hebat, tapi majikan yang payah”, “Kebahagiaan tidak dapat dikejar, melainkan harus mengikuti.” Dan juga kalimat Bert saat Buzz menyatakan keinginannya tentang keutuhan, kepuasaan, dan kebahagiaan tanpa pernah merasakan kesedihan. “Tidakkah kau lihat, Buzz? Segalanya relatif; begitu kau mendefiniskan suatu kondisi, kau menciptakan lawannya. Bagaimana bisa kau merasakan dingin kecuali kau tahu apa itu panas? Bagaimana kau bisa naik tanpa turun? Bahagia tanpa sedih?” Buku ini mengajak “manusia-manusia” biasa, seperti saya dan Anda, untuk merenungi lagi tentang kehidupan di tengah rutinitas yang kita miliki masing-masing. Yang perlu kita sadari bahwa apapun keadaan kita saat ini dan apa pun yang kita lakukan saat ini, betapa pun membosankannya, adalah karunia besar dari Tuhan yang patut disyukuri. Present is present. Dan pada akhirnya, sedalam apapun kita mencoba merenungkan tentang hidup dan kehidupan, yang ada hanyalah kita dengan Tuhan. Bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan hari ini dalam sebuah kerangka ibadah. Tertarik untuk membaca petualangan kehidupan kita sendiri dalam kisah Buzz Bee? Just read the book by your self^^ Atau silakan berkunjung ke www.tobeebook.com. Dan akhir kata, selamat membaca! :) (http://www.akusukamenulis.wordpress.com/) Sumber: http://www.akusukamenulis.wordpress.com/ |